KARANGASEM, MediaBaliNews – Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap dua orang pendaki yang sempat hilang arah di belantara lereng Gunung Agung, Kabupaten Karangasem, Bali, akhirnya membuahkan hasil manis. Tim SAR gabungan berhasil menemukan kedua penyintas dalam kondisi bernyawa di kawasan jurang curam pada ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), Rabu (9/9/2026) siang sekira pukul 13.30 WITA.
Kedua pendaki tersebut sebelumnya dilaporkan kehilangan arah dan kesulitan mencari jalan pulang setelah memulai aktivitas pendakian sejak Selasa (8/9/2026) petang sekitar pukul 17.30 WITA.
Laporan darurat mengenai musibah tersebut baru diterima oleh petugas siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Denpasar pada Rabu pagi pukul 08.25 WITA. Merespons informasi itu, tim penyelamat langsung menyusun skema pergerakan cepat dengan membagi regu pencari ke beberapa titik koordinat yang dicurigai.
Koordinator Pos Pencarian dan Pertolongan Karangasem, Putu Handika Bhayangkara, memaparkan bahwa arah pergerakan regu penyelamat dipusatkan menuju kawasan lintasan Telung Buana berdasarkan analisis petunjuk jejak dan koordinat kontak terakhir korban.
“Berdasarkan informasi posisi terakhir pendaki dan petunjuk yang ada di lapangan, kami mencurigai posisi pendaki berada di jalur menuju ke Telung Buana,” beber Putu Handika saat mengurai dinamika operasi di posko aju.
Sekira pukul 12.00 WITA, Search and Rescue Unit (SRU) 1 mulai merangsek naik menyisir rute Pura Telaga Mas. Sekitar 15 menit berselang, lima personel pemandu lokal menyusul melakukan pendakian dari arah Pura Pasar Agung, Kecamatan Selat, guna memperkuat daya gedor penyisiran di vegetasi rapat.
Kerja keras tersebut terbayar lunas satu setengah jam kemudian ketika SRU 1 melaporkan kontak visual langsung dengan kedua korban di area punggungan terjal.
“Selama 4 jam pencarian, pendaki dapat kami temukan di ketinggian 2000 mdpl pada pukul 13.30 Wita dengan kondisi selamat dan hanya mengalami kelelahan,” tutur Handika menambahkan.
Titik penemuan korban berada di kawasan terjepit antara aliran Sungai Lebih dan Sungai Telung Buana. Medan evakuasi tergolong sangat ekstrem lantaran kontur tanah yang sangat curam serta posisinya yang melenceng jauh dari jalur resmi pendakian. Tantangan tim kian membengkak drastis menyusul turunnya hujan ringan serta serbuan kabut pekat yang membatasi jarak pandang visual personel.
Guna mengantisipasi kendala stamina, lima personel tambahan diberangkatkan menyusul pada pukul 15.45 WITA dengan membawa pasokan logistik darurat untuk mendampingi proses evakuasi turun menuju titik kumpul di Pura Pasar Agung.
Tepat pada pukul 16.45 WITA, seluruh iring-iringan tim evakuasi bersama kedua korban tiba di pelataran parkir Pura Pasar Agung. Kedua penyintas tidak dilarikan ke rumah sakit rujukan karena kondisi fisiknya lekas stabil usai mendapat pemeriksaan medis pertama dari petugas ambulans Puskesmas Selat, sebelum akhirnya dijemput pihak kerabat untuk bertolak pulang ke Denpasar.
Operasi kemanusiaan ini turut melibatkan sinergi lintas instansi, mencakup BPBD Kabupaten Karangasem, Babinsa dan Bhabinkamtibmas Desa Sebudi, Polsek Selat, Damkar Karangasem, hingga gabungan komunitas pemandu lokal seperti KUPS Pasar Agung, Mudi Go To Mountain, KATA, Kelompok Pengubengan, dan relawan Edelweis.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, I Nyoman Sidakarya, mengingatkan para pegiat alam bebas agar tidak menunjukkan kelalaian maupun iktikad buruk dengan menerobos jalur tikus ilegal tanpa perlengkapan memadai.
Pihaknya menuturkan pentingnya membaca prakiraan cuaca secara berkala dan tidak memaksakan diri menembus batas fisik di gunung tertinggi di Pulau Dewata tersebut.
Sidakarya menegaskan bahwa pendaki, khususnya kategori pemula, wajib tunduk pada regulasi lokal dengan memanfaatkan jasa pemandu resmi demi menghindari petaka tersesat di zona bahaya. (ang/mbn)






















