Friday, October 23, 2026
Friday, October 23, 2026

2 Tahun Godok Materi Baru, Kuartet Alternative Rock Zat Kimia Lahirkan Metafora “Karsinoma”

DENPASAR, MediaBaliNews – Band alternative rock asal Bali, Zat Kimia, resmi membuka peta jalan menuju peluncuran album penuh kedua mereka lewat perilisan karya tunggal terbaru bertajuk “Karsinoma”, Kamis (1/10/2026).

Lagu yang dilepas secara independen ke seluruh gerai pemutar musik digital ini menandai materi perdana yang diperkenalkan kuartet tersebut setelah menghabiskan waktu sekitar dua tahun menggodok proses rekaman di dapur kreatif.

Melalui repertoar anyar ini, kelompok musik yang dimotori Ian Joshua Stevenson (vokal/gitar), Made Edy (bas), Bramestyo (gitar), dan Deny Surya (drum) tersebut mengangkat narasi pergulatan batin manusia yang kerap membiarkan luka batin lama, dendam tak berkesudahan, rasa sakit hati, serta serpihan memori traumatik bersarang di dalam pikiran.

Istilah medis kanker ganas ini lantas dipinjam sebagai bingkai metafora bagi sesuatu yang diam-diam bersembunyi, mengendap, hingga perlahan menggerogoti stabilitas emosional seseorang.

Vokalis sekaligus gitaris Zat Kimia, Ian Joshua Stevenson, memaparkan bahwa pemaknaan lagu tersebut tidak semata-mata dibatasi pada ranah patologi medis, melainkan mencakup residu destruktif yang dipelihara tanpa disadari.

“Kalau secara spesifik, ‘Karsinoma’ memang berbicara tentang kanker. Tapi secara umum, lagu ini juga tentang racun masa lalu, dendam, sakit hati, atau apa pun yang terus kita pendam. Kalau dibiarkan, hal-hal itu bisa tumbuh dan menggerogoti diri. Itu sebenarnya inti dari lagu ini,” ujar Ian saat membeberkan konsep di balik karyanya.

Pihaknya menuturkan, sublimasi pesan tersebut dirajut sejak baris awal lirik lewat kalimat “Di dalam diriku, ada yang sembunyi” hingga menyentuh apa yang mereka sebut sebagai “sisa bisa masa lalu”.

Kendati memotret kepedihan, narasi lagu tidak dibiarkan terjerembap dalam keputusasaan. Frasa “Saatnya kupegang kendali” dihadirkan sebagai titik balik perlawanan, dilengkapi artikulasi imperatif seperti “lepaskan”, “urai”, dan “leburkan” yang menyiratkan keberanian menghadapi beban emosional sebelum dampak kerusakannya membengkak drastis.

Baca Juga :  Terlibat Laka Di Mendoyo, Bocah Berusia Tiga Tahun Tewas

Struktur lirik yang berulang pada bagian refrained juga dirancang sengaja menyerupai afirmasi batin bahwa pemulihan jiwa menuntut proses yang terus-menerus dirawat.

Ian membeberkan, nomor ini didapuk sebagai pembuka jalan lantaran mampu mengikat benang merah konsep album penuh mendatang. Karya-karya dalam album kedua tersebut berpijak pada sembilan spektrum emosi manusia yang diolah menjadi titik bidik eksplorasi tanpa harus dipahami secara kaku atau harfiah.

“Setiap kali menulis lirik, aku biasanya memegang satu tema atau emosi sebagai titik bidiknya supaya arah lagunya tidak ke mana-mana. Emosi itu tidak harus menjadi cerita yang harfiah. Misalnya, kemarahan (anger) bisa berkembang menjadi lagu tentang persoalan sosial dan politik. Jadi, yang aku ambil adalah daya dorong emosinya, lalu dari sana ceritanya bisa bergerak lebih luas,” papar sang vokalis.

Dari departemen tata suara, Zat Kimia tetap konsisten menjaga watak musik alternative rock dengan sentuhan distorsi khas dekade 1990-an. Rekaman lagu dirampungkan secara mandiri di studio rumahan (home studio) milik Ian, mempertegas etos kerja independen yang telah mengakar sejak debut album perdana mereka, “Candu Baru” (2017), yang sempat menembus nominasi Album Rock Terbaik Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2018.

Kuartet yang dirintis sejak 2010 ini tercatat sempat menepi dari keriuhan panggung sejak 2019, sebelum akhirnya memutus fase bungkam dengan kembali aktif merilis materi “Mata Hari” pada September 2024 silam. Hadirnya “Karsinoma” kini mengukuhkan babak baru perjalanan musikalitas mereka di kancah musik nasional. (ang/mbn)

BERITA MENARIK LAINNYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKINI