TABANAN, MediaBaliNews – Manajemen Daerah Tujuan Wisata (DTW) Tanah Lot mencatat penurunan angka kunjungan wisatawan yang cukup tajam selama momentum libur Imlek 2026.
Fenomena musim sepi atau low season serta kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi faktor utama lesunya arus pelancong ke ikon pariwisata Bali ini. Pada puncak libur Imlek, Selasa, 17 Februari 2026 lalu, misalnya, jumlah kunjungan tercatat hanya menyentuh angka 3.142 orang wisatawan saja.
“Untuk libur Imlek tahun ini memang mengalami penurunan dibandingkan tahun 2025 yang mencapai angka di kisaran 5.000 pengunjung,” kata Kepala Divisi Promosi dan Pengembangan DTW Tanah Lot, I Wayan Sanjaya Tampi, Senin, 23 Februari 2026.
Data statistik menunjukkan tren penurunan kunjungan harian tersebut sebenarnya sudah mulai terlihat sejak memasuki pertengahan bulan Februari secara bertahap. Pada Minggu, 15 Februari 2026, jumlah kunjungan masih berada pada posisi 3.364 orang sebelum menyusut menjadi 3.338 orang di hari berikutnya. Penurunan ini sangat kontras jika kita membandingkan dengan antusiasme kunjungan wisatawan pada periode libur panjang atau high season tahun lalu.
“Tren penurunan kunjungan kemungkinan dipengaruhi oleh kebijakan efisiensi sejumlah daerah, cuaca yang tidak menentu, hingga masuknya periode bulan puasa,” ujar Sanjaya Tampi saat menganalisis penyebab sepinya objek wisata andalan di Kabupaten Tabanan tersebut.
Kondisi eksternal seperti kebijakan penghematan anggaran di berbagai instansi daerah turut berdampak langsung pada daya beli masyarakat untuk berwisata. Selain itu, sepinya kunjungan wisatawan mancanegara pada awal tahun ini membuat pihak pengelola harus bekerja keras menjaga stabilitas arus kas operasional. Para pelaku industri pariwisata di sekitar kawasan pura juga mulai merasakan dampak ekonomi dari berkurangnya jumlah orang yang datang berkunjung.
“Selain kebijakan efisiensi daerah dan cuaca yang tidak menentu, saat ini juga memasuki periode bulan puasa sehingga kunjungan memang sedang melambat,” ucap Sanjaya Tampi yang tetap terlihat optimistis menghadapi tantangan fluktuasi pasar pariwisata global saat ini.
Pihak pengelola mencatat rata-rata kunjungan wisatawan dari tanggal 1 hingga 17 Februari hanya bertahan pada level 2.000 sampai 3.000 orang saja. Titik kunjungan paling rendah terjadi pada 6 Februari 2026 yang hanya mencatatkan angka 1.936 orang wisatawan yang masuk melewati pintu loket. Meskipun sempat terjadi lonjakan tipis pada 7 Februari menjadi 3.663 orang, namun angka tersebut tidak bertahan lama dan cenderung kembali menurun.
“Kami akan terus melakukan evaluasi serta memperkuat strategi promosi digital guna menjaga stabilitas kunjungan wisatawan ke Tanah Lot ke depannya,” tutur Sanjaya Tampi mengenai langkah konkret manajemen dalam menghadapi masa sepi kunjungan tahun ini.
Strategi jangka pendek yang kini sedang digarap adalah melakukan diversifikasi atraksi budaya serta mempercantik area taman di sekitar kawasan pura. Kerja sama strategis dengan pemerintah daerah juga terus ditingkatkan guna menjamin kenyamanan aksesibilitas para wisatawan yang datang menggunakan kendaraan pribadi. Pemanfaatan teknologi informasi dan media sosial menjadi prioritas utama untuk memasarkan keindahan matahari terbenam Tanah Lot kepada pasar internasional secara lebih masif.
“Sektor pariwisata harus tetap tumbuh secara berkelanjutan melalui sinergi yang kuat antara pengelola, pemerintah, dan juga para pelaku industri pariwisata lokal,” kata Sanjaya Tampi mengakhiri penjelasannya mengenai visi pengembangan kawasan wisata berkelanjutan di Pulau Dewata.
Meskipun saat ini angka statistik sedang menunjukkan grafik menurun, daya tarik magis pura di atas batu karang tersebut tidak pernah pudar bagi wisatawan. Pihak manajemen meyakini bahwa tingkat kunjungan akan kembali normal dan meningkat tajam saat memasuki musim libur sekolah serta hari raya mendatang. Konsistensi dalam menjaga kualitas pelayanan dan kebersihan lingkungan menjadi modal utama Tanah Lot untuk tetap menjadi destinasi pilihan utama di Bali. (ang/mbn)






















