MANGUPURA, MediaBaliNews – Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Bali menggelar diskusi terkait pengendalian rabies di Hotel Tuntrum Kuta, Badung, Bali, pada Selasa (10/9/2024). Diskusi ini dihadiri oleh berbagai pihak terkait, termasuk Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Bali.
Ketua IAKMI Bali, Ni Made Dian Kurniasari, menyampaikan bahwa berdasarkan data dari Dinas Kesehatan dan Dinas Pertanian Bali, zona merah rabies di Bali saat ini berada di Karangasem, Gianyar, dan Tabanan.
IAKMI menilai vaksinasi rabies terhadap hewan penular rabies (HPR) merupakan langkah utama dalam pengendalian rabies. Selain itu, kontrol populasi anjing melalui sterilisasi, penangkapan anjing liar, dan pemeliharaan anjing di rumah juga menjadi penting.
“Kami berupaya bagaimana mengendalikan populasi anjing di Bali, dan menekan angka rabies di Pulau kita ini,” ucapnya.
Menurut Dian, Shelter anjing, terutama untuk anjing liar, dinilai belum optimal saat ini. Sebagian besar shelter dimiliki oleh swasta atau yayasan, dan saat ini sangat sulit menjangkau anjing liar di wilayah terpencil.
“Peningkatan kesadaran masyarakat terkait pencegahan rabies juga penting. Langkah prefentif seperti mencuci luka gigitan dengan sabun dan air mengalir serta segera mengunjungi fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut sangat dianjurkan dan menjadi pembahasan saat ini,” ungkapnya.
Sementara itu, Drh I Dewa Made Anom dari PDHI Bali mengatakan, bahwa PDHI telah terlibat dalam program pengendalian rabies sejak 2009.
Kendala utama dalam pengendalian rabies adalah populasi anjing yang tinggi, terutama anjing liar. Anjing tanpa tuan atau liar itu menjadi sumber utama penyebaran rabies.
Penegakan Perda Nomor 15 Tahun 2009 tentang Registrasi Anjing dinilai belum maksimal. Registrasi anjing akan mempermudah monitoring dan pengendalian.
“Koordinasi antar instansi terkait juga menjadi kunci dalam pengendalian rabies. Diperlukan satu komando yang jelas dari Gubernur untuk memastikan semua langkah pengendalian rabies berjalan searah dan efektif,” tegasnya.
Kata Dewa, beberapa negara seperti Jepang dan Australia berhasil bebas dari rabies dengan melakukan eliminasi anjing liar secara selektif dan humanis.
“Mau atau tidak dilakikan eleminasi selektif, dan itu untuk kesehatan masyarakat. Di luar negeri sudah dilakukan itu. Negara-negara lain sudah sangat melarang keberadaan anjing liar,” bebernya. (ang/mbn)






















