JEMBRANA, MediaBaliNews – Banjar Warnasari Kelod, Desa Warnasari, Kecamatan Melaya, Jembrana menghadirkan inovasi pengelolaan sampah berbasis sumber dengan sistem insentif dan disinsentif yang terintegrasi secara digital.
Program ini dinilai mampu mengubah perilaku masyarakat sekaligus memberikan nilai ekonomi dari sampah.
Kelian Banjar Warnasari Kelod, I Kadek Sri Rama Usmantara mengatakan, sistem yang diterapkan ini dapat mendorong masyarakat untuk aktif memilah sampah sejak dari rumah.
“Di sini sistemnya insentif dan disinsentif. Warga yang memilah sampah cukup membayar residu saja per kilo, bahkan bisa tertutupi dari hasil penjualan sampah pilahan. Sementara yang tidak memilah dikenakan biaya per kilo,” ungkapnya, Senin (6/4/2026).

Ia menambahkan, warga yang menunjukkan partisipasi baik, termasuk dalam pengelolaan sampah, juga mendapatkan manfaat ekonomi. Bahkan, dalam skema tertentu seperti pernikahan, warga bisa memperoleh insentif sebagai bentuk apresiasi dari sistem sosial yang dibangun.
Seluruh transaksi dan hasil pengelolaan sampah tersebut terintegrasi dalam sistem digital “Banjar Pay” yang bekerja sama dengan Bank BPD Bali. Melalui sistem ini, nilai ekonomi dari sampah langsung masuk ke rekening warga dan dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti pembayaran listrik, pajak, hingga BPJS.
Tak hanya itu, inovasi ini juga didukung layanan “HALLO NJAR” yang mempermudah warga mengakses berbagai layanan publik hanya melalui WhatsApp. Petugas banjar bahkan dapat datang langsung ke rumah warga, sehingga pelayanan menjadi lebih mudah dan inklusif.
Menurutnya, pendekatan yang diterapkan bukan semata persoalan teknis pengelolaan sampah, melainkan membangun kepercayaan dan partisipasi masyarakat.
“Masalah sampah bukan hanya soal teknis, tapi soal sistem dan kepercayaan. Kalau sistemnya adil dan memberi manfaat, masyarakat pasti ikut,” tegasnya.
Saat ini, timbulan sampah di Banjar Warnasari Kelod mencapai sekitar 400 kilogram per hari, dengan sekitar 80 persen di antaranya memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan baik. Sampah organik dimanfaatkan menjadi pupuk, sementara sampah anorganik dipilah untuk didaur ulang.

Kemudian, kata Kadek Rama, pihak Banjar juga telah membagikan sebanyak 38 unit Teba Modern dan 43 unit Tonh Komposter kepada warga.
Melalui inovasi ini, lingkungan menjadi lebih bersih, beban ekonomi warga berkurang, serta partisipasi sosial meningkat. Model pengelolaan ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi wilayah lain dalam menangani persoalan sampah secara berkelanjutan.
“Ini bukan sekadar pengelolaan sampah, tapi upaya menuju kemandirian desa yang bersih, berdaya, dan berkelanjutan,” pungkasnya. (gsn/mbn)


























