JEMBRANA, MediaBaliNews – Sejumlah warga yang rumahnya rusak akibat diterjang banjir bandang di Tukad Bilukpoh, Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana setuju untuk direlokasi. Namun untuk lokasinya, warga terdampak mengharapkan agar dicarikan lahan yang masih berada Desa atau Kelurahan mereka.
Dari pantauan dilokasi, alasan warga setuju untuk direlokasi yaitu melihat fakta dilapangan adanya pembanatan hutan yang kondisinya sangat memprihatinkan, dan tidak berani menempati lokasi tersebut, lantaran takut kejadian serupa terjadi kembali. Apalagi dalam kurun waktu empat tahun sudah dua kali diterjang ganasnya banjir badang yang menghancurkan tepat tinggal warga.
Hal tersebut diungkapkan salah seorang warga terdampak banjir bandang, Gusti Komang Putra,47 saat ditemui di Posko Pengungsian di Lingkungan Bilukpoh Kangin, Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Kamis (20/10/2022). Dirinya juga mengatakan, rencana relokasi juga sangat diharapkan, lantaran jika memperbaiki rumah yang sudah hancur, takut akan terjadi banjir kembali.
“Kalau masih ada pembabatan di hutan, bencana seperti ini akan terus terjadi. Jadi jika memang ada relokasi kami disini setuju, namun lokasinya kami harapkan dekat sini (Lingkungan Bilukpoh Kangin). Jika dilakukan perbaikan rumah juga nanti tetap diterjang banjir, sekarang saja baru empat tahun lalu kami mengalami banjir sudah terjadi lagi di tahun 2022, jadi memang harus pindah solusinya,” ujar Komang Putra.
Disinggung mengenai kayu sisa banjir yang masih menutupi rumah-rumah warga, Komang Putra mengatakan, jangan sampai seperti tahun 2018 lalu yang hanya menguntungkan perseorangan saja. “Jangan sampai ada korban ada yang menikmati kayu-kayu ini. Maunya saya kalau memang dikasi, cari pengepul satu, dia sudah lihat berapa berani beli, nantinya potongan tidak terpakai bisa dijual kayunya untuk kayu bakar, kita jual juga, hasilnya kita bagi untuk warga yerdampak, itu sih harapan kami disini,” tandasnya.
Sementara Kelian Banjar Anyar Kelod, Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana ditemui terpisah menjelaskan, warga terdampak banjir bandang di daerahnya setuju untuk dilakukan relokasi. “Relokasi mereka mau, namun diharapkan di daerah Desa Penyaringan. Memang dari tahun sebelumnya mau relokasi, namun masih mencari lahan dan mengumpulkan uang, dan inginnya masyarakat agar tetap di banjar Anyar Kelod,” pungkasnya. (jar/war/mbn)


























