JEMBRANA, MediaBaliNews — Kawasan hutan Cekik, Gilimanuk, yang sempat menjadi sorotan setelah video dugaan pembakaran lahan seluas 1,2 hektare viral di media sosial, ternyata disiapkan untuk pemulihan ekosistem padang savana, Sabtu (24/10/2026).
Kepala Seksi Wilayah I TNBB, Isai Yusidarta mengatakan, pembersihan tanaman di kawasan tersebut merupakan bagian dari kegiatan pembinaan habitat. Tanaman kerasi dan krinyu yang tumbuh di lokasi itu dinilai bukan vegetasi asli, melainkan spesies asing invasif.
“Tanaman kerasi dan kerinyu bukan tanaman asli hutan Cekik. Itu adalah tanaman alien spesies invasif. Maka sudah sewajarnya di musnahkan,” ungkapnya.
Menurut Isai, ekosistem asli hutan Cekik berupa padang savana atau padang rumput. Karena itu, keberadaan tanaman asing invasif perlu dikendalikan agar kawasan tersebut dapat dikembalikan pada kondisi ekosistem alaminya.
Proses pembinaan habitat dilakukan dengan membabat tanaman kerasi dan krinyu, kemudian menumpuknya dalam ukuran kecil sebelum dilakukan pembakaran terkendali.
TNBB selanjutnya merencanakan penebaran biji rumput padang savana ketika musim hujan dimulai. Upaya ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan rumput dan memulihkan karakteristik savana yang menjadi ekosistem asli kawasan Cekik.
“Biji rumput Padang Savana akan ditebar ketika musim hujan dimulai dengan harapan biji rumput Padang Savana bisa tumbuh bagus. Dan ekosistem asli hutan Cekik berupa Padang Savana dapat kembali lagi sesuai dengan definisi Taman Nasional,” jelasnya.
Sementara itu, Plt Kepala TNBB Gilimanuk, Adang Bayu Pamungkas menerangkan, kegiatan pembersihan tersebut juga berkaitan dengan upaya mengantisipasi meluasnya kebakaran setelah ditemukan sejumlah titik api di kawasan Cekik pada 12 Oktober 2026 lalu.
Titik api tersebut diduga muncul akibat aktivitas pencari madu. Tim Manggala Agni TNBB kemudian melakukan pemadaman, dilanjutkan dengan pembersihan tanaman yang berpotensi mendukung penyebaran api.
“Awalnya lahan hutan ini pada Senin 12 Oktober 2026 lalu ada beberapa titik api di sekitar kawasan Cekik yang diduga akibat aktivitas pencari madu.
Melihat ada beberapa titik lahan yang terbakar, kemudian dilakukan pemadaman oleh tim Manggala Agni TNBB. Selanjutnya oleh petugas resor Gilimanuk untuk antisipasi jangan terjadi kebakaran meluas dilakukan pembersihan lahan yang jadi potensi penyebaran api (jenis krinyu dan tanaman kerasi) tersebut,” pungkasnya. (gsn/mbn)






















