Sunday, May 31, 2026
Sunday, May 31, 2026

Jazz dan Budaya Menyatu Harmonis di Ubud Village Jazz Festival 2025

GIANYAR, MediaBaliNews – Sthala Ubud Village Jazz Festival (UVJF) 2025 telah sukses digelar. Festival dua hari ini kembali menjadi magnet bagi penikmat musik jazz dari berbagai penjuru. Suasana hangat dan penuh gairah terasa di jantung Lodtunduh, Bali.

“Selama 12 tahun, festival ini telah menjadi ikon baru di Ubud. Kami datangkan musisi dari berbagai negara,” tutur Anom Darsana, co-founder UVJF.

Pada tahun ini, desain panggung festival berbeda dari sebelumnya. UVJF 2025 memusatkan perhatian pada dua panggung. Giri Stage untuk orkestra besar, dan Subak Stage untuk pertunjukan yang intim.

“Di Subak Stage, musik menyatu dengan alam. Gemericik air sungai menjadi bagian dari harmoni,” ujar Anom Darsana.

Malam kedua festival dibuka dengan penampilan energik Dizzy & Wicked. Kuartet electro-jazz ini membawakan lagu-lagu hits. Mereka berhasil menciptakan groove modern yang membangkitkan semangat penonton.

“Dizzy & Wicked berhasil membangkitkan semangat penonton. Groove modern mereka sangat enerjik,” jelas Anom Darsana.

East West European Jazz Orchestra melanjutkan kemeriahan di Giri Stage. Mereka menyuguhkan harmoni swing dan funk dari berbagai negara. Lagu “Samba Para Ubud” menjadi salah satu yang paling berkesan.

“East West European Jazz Orchestra membawa energi internasional. Penampilan mereka sangat memukau,” ungkap Anom Darsana.

Balawan Trio bersama Jiyestha tampil memukau di Subak Stage. Mereka memadukan jazz fusion dengan instrumen gamelan Bali. Permainan gitar double-neck Balawan membuat penonton berdecak kagum.

“Balawan Trio memberikan kejutan dengan perpaduan jazz dan gamelan Bali. Itu sangat unik,” kata Anom Darsana.

ROUGE dari Prancis membawa penonton pada suasana melankolis. Mereka membawakan lagu-lagu dengan lirik yang puitis. Penampilan Makoto Kuriya Trio kemudian mengubah suasana kembali menjadi penuh energi.

“ROUGE membawa suasana yang berbeda. Melodi lirik mereka sangat menyentuh,” terang Anom Darsana.

Makoto Kuriya Trio menampilkan jazz-fusion yang memukau. Mereka membawakan “Sakura Garden” dan “Cherokee”. Penampilan mereka menghipnotis penonton dari berbagai usia.

Baca Juga :  Wujudkan Badung Satu Data di Bidang Subsidi Migas, Wabup Suiasa Pimpin Rapat Sinkronisasi Data Penerima Manfaat Migas

“Makoto Kuriya adalah maestro sejati. Penampilannya memukau semua penonton,” tutur Anom Darsana.

Mahanada kemudian mengambil alih panggung Subak Stage. Penampilan mereka menurunkan tempo dan menciptakan keintiman. Lagu orisinal “Me Myself Nada” menjadi puncak emosi.

“Mahanada membawa suasana yang lebih santai. Tampilannya sangat intim,” ujar Anom Darsana.

Panggung utama ditutup dengan megah oleh Galaxy Big Band. Mereka membawakan lagu-lagu dengan aransemen orkestra. Penampilan mereka menutup festival dengan sangat meriah.

“Galaxy Big Band memberikan penutup yang spektakuler. Semua penonton ikut terbakar semangat,” jelas Anom Darsana.

UVJF 2025 tidak hanya berfokus pada musik. Festival ini berkolaborasi dengan seniman dan komunitas lokal. Mereka menciptakan instalasi layang-layang raksasa yang memukau.

“Kami ingin festival ini lebih dari sekadar musik. Kami menggandeng komunitas lokal,” ungkap Anom Darsana.

Layang-layang Janggan, Wayang, dan Barong dipajang sebagai instalasi seni. Pemasangan ini menjembatani tradisi Bali dengan atmosfer jazz. Ini menjadi daya tarik visual yang kuat.

“Layang-layang raksasa menjadi bagian artistik festival. Itu sangat memukau,” kata Anom Darsana.

Aspek ekologi juga menjadi perhatian utama penyelenggara. Mereka menerapkan sistem gelas deposit. Ini berhasil mengurangi sampah plastik secara signifikan di area festival.

“Kami ingin menjaga lingkungan. Maka kami terapkan sistem gelas deposit,” terang Anom Darsana.

Hasilnya, area festival hampir tidak ada sampah plastik. Ini menunjukkan bahwa festival besar bisa berjalan selaras dengan alam. UVJF berharap bisa menjadi contoh bagi acara serupa.

“Festival kami nyaris tanpa sampah plastik. Kami tunjukkan musik bisa ramah lingkungan,” tutur Anom Darsana.

Anom Darsana berterima kasih kepada semua tim dan relawan. Ia berharap festival ini akan terus hidup. Ia juga berharap adanya dukungan lebih besar di masa mendatang.

“Kami berharap ada lebih banyak dukungan. Agar jazz idealis terus hidup,” pungkas Anom Darsana. (ang/mbn)

BERITA MENARIK LAINNYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKINI