SINGARAJA, MediaBaliNews – Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyoroti pentingnya menjaga toleransi dan semangat kebangsaan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Hal itu disampaikannya saat memberikan Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan, Jumat (15/5) sore.
Dalam kuliah umum tersebut, Muzani mengajak generasi muda memperkuat persatuan sebagai modal menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045. Menurutnya, semangat persaudaraan harus tetap dijaga agar keberagaman tidak menjadi sumber perpecahan.
“Spiritualitas tidak boleh menghancurkan persaudaraan. Sampai sekarang semangat persaudaraan masih cukup kuat,” ujar Muzani.
Kedatangan Ketua MPR RI di kampus yang berada di Singaraja itu disambut kesenian Bala Goak khas Bali Utara. Ia hadir didampingi Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI I Nengah Duija.
Kuliah umum turut dihadiri tokoh agama di Bali Utara, organisasi kemasyarakatan keagamaan, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Aliansi Cipatyung Plus, hingga Aliansi BEM Bali Utara.
Muzani mengatakan Indonesia akan memasuki usia 100 tahun kemerdekaan pada 2045 mendatang. Karena itu, generasi muda dinilai harus memiliki daya tahan dan kemandirian menghadapi berbagai persoalan global, mulai dari ekonomi hingga dampak konflik dunia.
“Sekarang problem kita bagaimana anak-anak bisa makan, bisa kuliah dengan murah. Dalam suasana dunia seperti ini bukan hal gampang,” katanya.
Meski demikian, ia optimistis masyarakat Bali memiliki potensi besar untuk bersaing melalui kreativitas dan budaya yang dimiliki.
“Saya yakin orang Bali memiliki kemampuan inovasi yang baik dan teruji dalam bidang kesenian,” imbuhnya.
Dalam kesempatan itu, Muzani juga memaparkan hasil survei nasional yang menunjukkan tingginya rasa bangga masyarakat terhadap identitas kebangsaan Indonesia. Ia menyebut sekitar 98 persen masyarakat bangga menjadi orang Indonesia dan 73 persen siap membela negara.
Selain itu, sekitar 92 persen masyarakat memahami Pancasila sebagai dasar negara.
“Ini menunjukkan pijakan bernegara kita sudah baik. Mari perkokoh semangat persatuan dalam bingkai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika,” tegasnya.
Sementara itu, Rektor IMK I Gede Suwindia mengatakan kuliah umum tersebut menjadi momentum memperkuat karakter kebangsaan di lingkungan kampus.
“Kami sangat senang Bapak Ketua MPR RI hadir di tengah sivitas akademika IMK untuk menguatkan spirit kebersamaan,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan IMK saat ini tengah membangun gedung pascasarjana di Jalan Kresna, Singaraja. Namun pembangunan tahap kedua belum dapat diselesaikan karena keterbatasan anggaran.
Di sisi lain, Dirjen Bimas Hindu I Nengah Duija menilai perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar mencetak generasi muda yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan yang kuat.
Menurutnya, nilai persatuan dalam ajaran Hindu melalui konsep Vasudhaiva Kutumbakam atau semua bersaudara, selaras dengan semangat Pancasila sebagai pemersatu bangsa.
Rangkaian kuliah umum ditutup dengan penancapan Penjor Kebangsaan oleh Ahmad Muzani bersama I Nengah Duija, Rektor IMK I Gede Suwindia, Sekda Buleleng Gede Suyasa, dan Ketua DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya sebagai simbol persatuan dan harmoni kebangsaan. (ika/mbn)






















