Saturday, May 2, 2026
Saturday, May 2, 2026

Nuanu Social Fund, Wajah Baru Perempuan Penggerak Budaya di Tanah Tabanan

TABANAN, MediaBaliNews – Gelombang kreativitas kini tengah menyapu pesisir selatan Kabupaten Tabanan melalui tangan-tangan dingin para perempuan lokal di Desa Beraban. Mereka menginisiasi ratusan proyek sosial yang memadukan akar tradisi lama dengan sentuhan teknologi digital masa kini.

Langkah strategis ini mendapat sokongan penuh dari Nuanu Social Fund (NSF) sebagai bagian dari pembangunan ekosistem kreatif terpadu. Dukungan tersebut bertujuan memastikan bahwa kemajuan infrastruktur pariwisata tetap berjalan selaras dengan pemberdayaan manusia setempat.

“Pertumbuhan sebuah ekosistem tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi dari bagaimana ide dan inisiatif masyarakat sekitarnya berkembang,” ujar Ida Ayu Astari Prada, Director Brand and Communications Nuanu.

Catatan internal lembaga menunjukkan bahwa separuh lebih dari 494 inisiatif yang didukung sejak 2023 digerakkan oleh kaum perempuan. Para srikandi ini mengelola berbagai sektor mulai dari literasi digital bagi remaja hingga pelestarian filosofi tari Bali.

Kehadiran mereka membuktikan bahwa peran perempuan sangat krusial dalam menjaga identitas daerah di tengah gempuran modernisasi global. Pola pendampingan yang diberikan tidak hanya berupa dana, melainkan juga penyediaan ruang bagi gagasan baru untuk tumbuh.

“Kami melihat banyak perempuan memimpin perubahan di komunitasnya, dan bagi Nuanu penting memastikan gagasan tersebut mendapat ruang,” kata Astari menekankan pentingnya inklusivitas.

Di sebuah sudut sekolah menengah, Ida Ayu Agung Erlina atau Dayu tengah membimbing siswanya merancang karakter komik digital. Guru SMPN 3 Kediri ini membentuk tim SECRET untuk menjawab kegelisahan muridnya yang haus akan ilmu desain grafis.

Mereka tidak ingin anak muda Bali hanya menjadi penonton dalam industri kreatif yang semakin kompetitif saat ini. Melalui media komik, para siswa diajak untuk menceritakan kembali kearifan lokal dengan gaya visual yang jauh lebih modern.

“Banyak siswa sebenarnya memiliki potensi besar di bidang kreatif, tetapi mereka membutuhkan ruang untuk mencoba mengembangkan ide mereka,” ujar Dayu.

Proyek perdana mereka yang bertajuk I GLORY berhasil memotret kehidupan remaja Bali dalam kemasan narasi visual yang segar. Karya ini sekaligus menjadi sarana promosi efektif bagi destinasi wisata dan kuliner khas yang ada di wilayah Tabanan.

Dengan kemampuan teknis yang mumpuni, para pelajar kini memiliki kepercayaan diri lebih tinggi untuk bersaing di tingkat nasional. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa sentuhan edukasi yang tepat mampu mengubah pola pikir generasi muda terhadap potensi daerahnya sendiri.

“Lewat SECRET, kami ingin memberikan kesempatan itu agar siswa memiliki wadah berkarya yang relevan dengan perkembangan zaman,” tutur Dayu menambahkan.

Baca Juga :  Jalan Jebol Bajera, Kunjungan Ulun Danu dan D'blooms Merosot 20 Persen, Parade Gebogan Jadi Harapan

Lain lagi dengan Wulan Asmitha yang memilih jalur seni pertunjukan sebagai media edukasi bagi masyarakat umum di sekitarnya. Ia mendirikan workshop tari yang tidak hanya mengajarkan estetika gerak, tetapi juga membedah filosofi mendalam di balik tarian tersebut.

Wulan meyakini bahwa pemahaman nilai luhur akan membuat masyarakat memiliki rasa kepemilikan yang kuat terhadap warisan budaya Bali. Workshop ini dirancang sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar tanpa batasan usia maupun latar belakang sosial.

“Melalui workshop ini, saya ingin menunjukkan bahwa tari Bali bukan hanya milik para penari di atas panggung saja,” ungkap Wulan.

Pendekatan inklusif ini membuat seni tradisi tidak lagi terasa kaku atau eksklusif bagi kalangan tertentu di mata generasi muda. Setiap peserta diajak merasakan langsung getaran spiritual dan makna simbolis dalam setiap gerakan yang mereka pelajari selama sesi latihan.

Proses belajar yang intim ini menciptakan ikatan emosional antara warga dengan tanah kelahiran serta leluhur mereka yang agung. Langkah Wulan menjadi antitesis bagi komersialisasi budaya yang seringkali hanya mengejar aspek tontonan semata tanpa memperhatikan tuntunan.

“Ia adalah bagian dari kehidupan sehari-hari dan bisa dipelajari oleh siapa saja yang peduli pada pelestarian budaya,” tegas Wulan Asmitha.

Keberhasilan program-program ini menjadi potret nyata bagaimana dukungan finansial yang tepat sasaran dapat memicu perubahan sosial yang masif. Nuanu Social Fund berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan manfaatnya bagi para penggerak komunitas lokal yang memiliki visi serupa.

Fokus utama tetap pada pengembangan sumber daya manusia sebagai fondasi utama dari terciptanya kawasan kreatif yang berkelanjutan. Transformasi ini diharapkan mampu menjadikan Bali sebagai pusat inovasi yang tetap teguh memegang teguh nilai-nilai budaya aslinya.

“Melihat bagaimana ide kecil dari komunitas dapat tumbuh dan memberi manfaat bagi banyak orang menjadi hal paling bermakna,” ujar Auditya Sari.

Kepala Nuanu Social Fund tersebut menegaskan bahwa pihaknya akan selalu membuka pintu bagi kolaborasi yang berdampak positif bagi lingkungan. Kekuatan komunitas yang tumbuh dari bawah dianggap jauh lebih organik dan tahan lama dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.

Ke depan, model pemberdayaan berbasis perempuan ini akan terus diperkuat guna menciptakan kesejahteraan ekonomi yang lebih merata. Sinergi antara inovasi global dan kearifan lokal inilah yang akan menentukan masa depan industri kreatif di Pulau Dewata.

“Salah satu visi kami adalah mendukung para penggerak komunitas agar memiliki kesempatan untuk memperluas dampak mereka,” kata Auditya Sari menutup pembicaraan. (ang/mbn)

BERITA MENARIK LAINNYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKINI