Thursday, August 27, 2026
Thursday, August 27, 2026

Jaga Daerah Tangkapan Air Pura Batukaru, Dishut Bali Kolaborasi Tanam 100 Pohon Bersama Industri Pariwisata

TABANAN, MediaBaliNews – Dinas Kehutanan Provinsi Bali bersama Nuanu Social Fund dan Bali Tourism Board (BTB) resmi memulai program reforestasi di kawasan hutan seluas 1.000 meter persegi di sekitar Pura Luhur Batukaru, Tabanan, Kamis, 27 Agustus 2026. Aksi pemulihan lingkungan ini menjadi model kolaborasi strategis antara pemerintah daerah, masyarakat adat, dan pelaku industri pariwisata dalam melindungi kawasan tangkapan air vital di Bali.

“Setiap hotel, restoran, dan vila di pulau ini menggunakan air yang pada awalnya berasal dari curah hujan yang ditampung oleh kawasan lereng seperti Batukaru. Industri pariwisata memiliki kepentingan langsung terhadap fungsi kawasan tangkapan air ini. Ini bukan sekadar kegiatan amal, melainkan bagian dari menjaga sumber daya yang menopang keberlangsungan usaha kita,” kata Chairman of the Bali Tourism Board, Ida Bagus Agung Partha Adnyana.

Reforestasi tahap awal ini ditandai dengan penanaman 100 bibit pohon yang terdiri dari 30 pohon beringin, 50 pohon mahoni, dan 20 pohon cempaka (Magnolia champaca). Penanaman dijadwalkan berlangsung bertahap hingga 2 September mendatang.

Kawasan Batukaru ditetapkan sebagai prioritas utama rehabilitasi hutan karena memiliki peran hidrologis dan ekologis krusial bagi wilayah hilir. Lereng Gunung Batukaru merupakan hulu tangkapan air yang memasok kebutuhan 20 sistem irigasi subak di kawasan Catur Angga Batukaru serta menopang kehidupan warga di tujuh desa, yakni Wongaya Gede, Jatiluwih, Tengkudak, Penatahan, Tegalinggah, Rejasa, dan Sangketan.

Kepala Bidang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, I Ketut Subandi, S.Hut., M.Si., menekankan bahwa reforestasi tidak boleh berhenti pada seremoni angka penanaman pohon semata.

“Yang lebih penting adalah memastikan kawasan kembali memiliki fungsi ekologis yang baik. Karena itu, arah, target, dan jangka waktu pemulihan harus ditentukan berdasarkan kondisi ekologis masing-masing kawasan, sehingga benar-benar memberi dampak bagi lingkungan dan masyarakat,” jelas Ketut Subandi.

Baca Juga :  Kelian se-Jembrana Terima Dana Insentif 

Ketiga jenis tanaman yang dipilih telah disesuaikan secara teknis dengan struktur tanah setempat. Pemilihan pohon beringin juga sarat makna karena memiliki nilai sakral dan budaya yang mengakar kuat pada lanskap pura di Bali.

Pelaksanaan program reforestasi ini melibatkan langsung Jero Bendesa Adat Wongaya Gede I Ketut Sucipto, para pengempon, pengurus Pura Luhur Batukaru, dan masyarakat desa adat yang secara turun-temurun menjaga kelestarian hutan.
Head of Nuanu Social Fund, Auditya Sari, menegaskan bahwa pihaknya mendanai seluruh tahapan program mulai dari penyediaan bibit, penanaman, hingga pemeliharaan dan pemantauan tingkat keberhasilan hidup pohon selama 12 bulan penuh.

“Reforestasi tidak selesai ketika pohon selesai ditanam. Sebagian besar risiko justru berada pada tahap setelah penanaman. Kami berkomitmen melakukan penyiraman, penyulaman bibit yang mati, proteksi area tanam, serta akan mempublikasikan data tingkat keberhasilan hidup pohon kepada publik pada September 2027,” tegas Auditya.

Inisiatif lintas sektor ini diharapkan menjadi cetak biru aksi konservasi terpadu di Bali, membuka ruang bagi lebih banyak pelaku usaha pariwisata swasta untuk berinvestasi dalam pelestarian alam demi menjaga ketahanan ekologi dan pariwisata berkelanjutan. (ang/mbn)

BERITA MENARIK LAINNYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKINI