JEMBRANA, MediaBaliNews – Musibah kebaran yang terjadi di Pasar Adat Lelateng pada Sabtu malam (4/2) lalu, masih meninggalkan banyak tanya terkait apa yang menjadi penyebab utamanya. Pasalnya, kebakaran yang terjadi ini merupakan yang ke-2 (dua) kali terjadi, setelah sebelumnya ditahun 2021.
Meskipun saat ini, pihak terkait dalam hal ini Polres Jembrana telah terjun langsung untuk melakukan olah TKP dan mendalami apa yang menjadi penyebab pasti kebarakan yang menghanguskan sekitar 20 kios dipasar adat Kelurahan Lelateng, Kecamatan Negara tersebut.
Menurut penuturan penjaga malam pasar adat Lelateng (Waker) Ketut Teduh kebakaran diduga disebabkan api dupa usai salah satu pedagang melaksanakan persembahyangan rutin di kiosnya.
“Ada yang melihat saat itu, salah satu pedagang melaksanakan persembahyangan rutin baik itu di depan, kemudian berlanjut di kios-nya dan dipura melanting. Dugaan Saya, dupa yang ada di kiosnya tersebut belum dimatikan usai sembahyang, makanya dapat memicu terjadinya kebakaran,” kata Ketut Teduh saat ditemui dirumahnya, Selasa (7/2).
Di sisi lain, Kepala Pasar Adat Lelateng Ketut Suparta mengatakan dari olah TKP dari pihak Polres Jembrana belum ada hasil dan kemungkinan besok baru keluar, dan untuk yang beredar masih simpang siyur terkait penyebab kebakaran.
“Rasanya menurut saya kalau namanya ada api kalau yang kena kabel otomatis listriknya konsleting dan apakah api duluan atau konsleting listrik yang duluan itu juga saya belum tau,” ungkapnya.
Sementara itu, Bendesa Adat Lelateng I Made Samiada mengatakan akan melakukan relokasi sementara di depan Pasar Adat Lelateng sampai kios selesai di renovasi bagi pedagang yang terdampak.
“Setelah kejadian seperti ini, saya merencanakan untuk pedagang yang terkena musibah ini akan direlokasi di depan pasar adat Lelateng sambil menunggu proses renovasi, namun tetap akan dikomunikasikan dengan para pedagang yang terkena musibah,” ucapnya saat memdampingi Bupati Jembrana meninjau pasar tersebut, Minggu (5/2).
Terkait kerugian sendiri, Samiade merinci mencapai angka Rp. 1 milyar lebih yang didalamnya termasuk kerugian dari barang dan bangunan.
“Kerugian saya perkirakan mencapai satu miliar untuk kerugian barang dan bangunan. Dan untuk pedagang yang terdampak sudah diberikan bantuan kemarin oleh pihak BPBD,” pungkasnya. (gsn/mbn)






















