TABANAN, MediaBaliNews – Kabupaten Tabanan berhasil menurunkan tingkat inflasinya secara signifikan hingga mencapai 1,96 persen. Dengan capaian tersebut, Tabanan kini menduduki posisi pertama di antara sembilan kabupaten di Bali dengan tingkat inflasi terendah.
Sebelumnya, inflasi di Tabanan terus meningkat hingga mencapai puncaknya pada April 2024 dengan angka 4,42 persen, tertinggi di Bali. Namun, berkat upaya intensif pemerintah daerah, inflasi berhasil ditekan.
Kepala Bagian Ekonomi Setda Kabupaten Tabanan, Nyoman Hari Sujana, menjelaskan bahwa inflasi tinggi pada triwulan I dan II disebabkan oleh kenaikan harga bahan pokok.
“Sepuluh bahan pokok yang menjadi penyebab utama inflasi, antara lain beras, minyak goreng, cabai, bawang merah, bawang putih, daging ayam ras, daging sapi, telur ayam ras, gula pasir, dan tepung terigu,” ungkap Hari Sujana.
Untuk menurunkan inflasi, Hari Sujana menyebut pemerintah daerah membentuk Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang terdiri dari OPD terkait dan bekerja sama dengan BPS, Bank Indonesia, OJK, serta Bulog.
“Bulog sangat kita libatkan karena kenaikan harga beras menjadi faktor utama peningkatan inflasi,” ucapnya.
Selain itu, pemerintah daerah juga menggelar pasar murah dan operasi pasar saat terjadi kenaikan harga.
“Kami berupaya agar tidak terjadi kekurangan stok pangan, sehingga tidak sampai terjadi kelangkaan pangan di masyarakat,” imbuhnya.
Untuk mempertahankan inflasi yang rendah, Hari Sujana mengatakan pemerintah daerah terus melakukan beberapa upaya, antara lain memantau pergerakan harga komoditas bahan pokok setiap minggu, melakukan koordinasi dengan TPID Pusat, bekerja sama dengan BPS untuk memantau dan menghitung perubahan indeks harga, dan melakukan sidak dan monitoring harga bersama TPID di pasar-pasar.
“Dengan upaya-upaya tersebut, kami dapat mengetahui dan menangani dengan cepat jika terjadi perubahan harga yang signifikan,” jelas Hari Sujana. (ang/mbn)


























