Thursday, June 4, 2026
Thursday, June 4, 2026

Tari Berko Kembali Dipentaskan, Warisan Langka Jembrana Sukses Curi Perhatian Generasi Muda

JEMBRANA, MediaBaliNews – Suara kulkul yang dipukul bertalu-talu memecah keheningan malam di Kelurahan Pendem, Kabupaten Jembrana. Irama ritmis yang dimainkan para seniman Sekaa Seni Berko Pendem itu seketika menarik perhatian warga. Tak butuh waktu lama, masyarakat dari berbagai kalangan usia berdatangan dan memadati area pementasan.

Di bawah cahaya temaram lampu sentir, kesenian tradisional yang nyaris jarang dipentaskan itu kembali hidup. Suasana sengaja dibuat menyerupai pertunjukan pada masa lampau untuk menghadirkan nuansa autentik Tari Berko, salah satu warisan budaya langka yang lahir dari masyarakat agraris Jembrana.

Tak ada gemerlap lampu modern maupun panggung megah. Sebuah pelita minyak yang ditempatkan di atas wajan tanah liat menjadi sumber penerangan utama. Cahaya kekuningan yang redup justru menghadirkan atmosfer khas yang membawa penonton seolah kembali ke masa ketika kesenian ini pertama kali berkembang di tengah masyarakat.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, nama Berko berasal dari ungkapan “bero-bero neko” yang kerap diucapkan warga saat menyaksikan pertunjukan dengan penerangan sederhana tersebut. Seiring waktu, istilah itu kemudian melekat dan menjadi identitas kesenian yang kini menjadi bagian dari khazanah budaya Jembrana.

Ketua Sekaa Seni Tari Berko Pendem, I Wayan Suwitra, menjelaskan bahwa Tari Berko lahir dari kreativitas Pan Mider, seorang petani sekaligus seniman asal Dusun Munduk Jati, Kelurahan Pendem. Awalnya, kesenian ini hanya berupa permainan alat musik bambu sederhana yang dimainkan di gubuk sawah untuk menghibur para petani setelah bekerja.

“Eksistensinya bermula dari alat musik bambu sederhana yang dimainkan Pan Mider di gubuk sawah untuk menghibur sesama petani. Lambat laun, harmoni nadanya yang memikat membuat masyarakat jatuh hati hingga berkembang menjadi pertunjukan yang hadir dalam berbagai kegiatan adat dan hiburan rakyat,” kata Suwitra di sela pementasan, Sabtu (25/4/2026).

Baca Juga :  Sukses Hadirkan Kegiatan Otomotif di Jembrana, Bupati Tamba Diganjar IMI Achievement 2022

Pementasan tersebut menjadi bagian dari Program Dokumentasi Karya Pengetahuan Maestro yang digagas Kementerian Kebudayaan RI. Melalui program itu, Tari Berko kembali didokumentasikan sekaligus diperkenalkan kepada masyarakat luas sebagai salah satu kekayaan budaya yang perlu dijaga keberlangsungannya.

Alunan musik bambu yang khas berpadu dengan gerak tari tradisional menghadirkan pesan tentang kebersamaan, gotong royong, serta keharmonisan hubungan manusia dengan alam. Nilai-nilai itulah yang sejak dulu menjadi ruh dari kesenian rakyat tersebut.

Menariknya, pertunjukan yang sarat nuansa tradisional itu justru mendapat sambutan hangat dari kalangan muda. Salah seorang penonton, Ni Putu Adela (23), mengaku baru pertama kali menyaksikan Tari Berko secara langsung.

“Menyaksikan Tari Berko dengan konsep kuno seperti ini memberi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Selain menghibur, saya juga jadi lebih mengenal warisan budaya daerah yang ternyata sangat kaya,” ujarnya.

Bagi masyarakat Pendem, pementasan Tari Berko bukan sekadar hiburan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi upaya merawat ingatan kolektif sekaligus mengenalkan kembali warisan budaya kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

Melalui panggung sederhana dan cahaya lampu sentir, Tari Berko kembali membuktikan bahwa warisan budaya lokal tetap mampu memikat hati masyarakat, termasuk generasi milenial yang selama ini lebih akrab dengan hiburan modern. (mbn)

BERITA MENARIK LAINNYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKINI