MANGUPURA, MediaBaliNews – Delegasi Indonesia secara aktif mendorong reformasi sistem remunerasi karya seni dalam pertemuan tingkat tinggi di wilayah Legian. Diplomasi ekonomi ini dilakukan untuk mengatasi kesenjangan pendapatan yang dialami oleh para musisi lokal pada platform streaming. Ketimpangan standar pembayaran royalti antar negara menjadi isu krusial yang segera memerlukan solusi hukum pada tingkat internasional.
“Kami menemukan fakta adanya perbedaan nilai royalti yang diterima kreator lokal meskipun jumlah streaming lagunya sama,” ujar Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual, Hermansyah Siregar, Senin, 6 April 2026.
Permasalahan ini berakar dari kebijakan platform musik digital yang menerapkan tarif berbeda untuk setiap wilayah geografis tertentu. Indonesia mengusulkan pembentukan instrumen internasional yang mengikat guna mengatur transparansi data metadata secara lintas batas negara. Langkah ini bertujuan agar para pencipta lagu mendapatkan hak ekonomi secara proporsional sesuai dengan penggunaan karya mereka.
“Isu ini terus kami perjuangkan agar tata kelola platform musik digital memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi seniman,” kata Hermansyah dengan lantang.
Melalui forum AWGIPC ke-78, Indonesia juga mengajak negara anggota ASEAN untuk bersama-sama meningkatkan skor indeks inovasi global. Saat ini, posisi rata-rata negara di Asia Tenggara masih berada pada peringkat tiga puluh hingga lima puluh dunia. Peningkatan kualitas layanan paten melalui inisiatif ASPEC Plus diharapkan mampu memacu daya saing industri kreatif di kawasan.
“Kreativitas seniman kita harus mendapatkan penghargaan yang layak agar taraf hidup mereka semakin meningkat secara berkelanjutan,” tutur Hermansyah kembali menegaskan.
Selain memperjuangkan royalti, pertemuan ini juga membahas sinkronisasi kebijakan perlindungan indikasi geografis untuk memperkuat produk ekonomi lokal. Promosi produk khas daerah seperti kain tradisional dan kerajinan tangan Bali menjadi bagian dari strategi diplomasi kebudayaan. Pemerintah yakin bahwa perlindungan kekayaan intelektual yang kuat akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat luas.
“Sinergi antar kantor kekayaan intelektual di Asia Tenggara sangat penting untuk menciptakan pasar digital yang lebih kompetitif,” ucap Direktur Kerja Sama, Yasmon.
Forum ini juga melibatkan dukungan dari organisasi internasional seperti WIPO untuk merumuskan peta jalan strategis lima tahun mendatang. Seluruh perwakilan kantor kekayaan intelektual sepakat untuk memperkuat kerja sama teknis dalam menghadapi tantangan ekonomi digital global. Indonesia berkomitmen penuh untuk menjadi motor penggerak terciptanya ekosistem inovasi yang lebih inklusif dan transparan.
“Kita perlu menyelaraskan standar administrasi agar para pelaku usaha memiliki kepercayaan lebih besar saat melakukan ekspansi bisnis,” ujar Yasmon menutup pembicaraan. (ang/mbn)


























