JEMBRANA, MediaBaliNews – Suara menderu mesin gergaji terdengar jelas dari sebuah tempat usaha UMKM pengerajin batok kelapa di Banjar Dauh Pangkung Jangu, Desa Pohsanten, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana. Di rumah sekaligus bengkel seni itu, limbah batok kelapa dan papan kayu ‘disulap’ menjadi karimba, alat musik khas Afrika, dengan cat warna-warni cantik.
Pemilik usaha UMKM ini adalah I Gusti Komang Agus Astawa (34), sebelum Astawa memulai usaha karimba sendiri pada tahun 2011, ia pernah bekerja dengan temannya yang sama-sama pengerajin karimba. Astawa mulai membuat karimba dengan bahan baku limbah batok kelapa, beberapa kayu dan jeruji sepeda, Jumat (2/12).
Astawa mengatakan pada bulan November ini, pesanan karimbanya bisa mencapai 9 Ribu buah karimba.
“Untuk pesanan di setiap bulannya itu naik turun, namun untuk di bulan november ini saya mendapat orderan karimba sebanyak 9 Ribu buah,” ungkapnya.
Harga Karimba yang ia jual juga beragam, tergantung dengan motif dan ukuran karimba.
“Untuk motif full batik saya jual di harga Rp 14 Ribu Rupiah dan motif biasa saya jual di harga Rp 13.500 Rupiah. Untuk ukuran kecil saya jual di harga Rp 13 Ribu Rupiah sampai dengan Rp 14 Ribu Rupiah dan yang besar saya jual di harga Rp 15 Ribu Rupiah keatas, ” jelasnya
Astawa mengirim pesanan di setiap minggu sekali di daerah kabupaten gianyar. ” Saya biasanya ngirim ke Sukawati, Ubud dan Tegalalang. Untuk jumlahnya tergantung pesanan yang di minta,” imbuhnya.
Astawa juga mengatakan bahwa saat ini pesanannya semakin banyak setelah sempat menurun karena pandemi covid kemarin. “Saat ini pesanannya banyak. Saya harus ngerjar jumlah pesanan, bahkan kita kejar dengan lembur di jam malamnya untuk menyelesaikan jumlah pesanan yang di minta,”pungkasnya. (gsn/mbn)






















