TABANAN, MediaBaliNews – Konservasi budaya menjadi fokus utama masyarakat Hindu Tabanan. Mereka bertekad melestarikan ritual Mesuryak pasca Hari Raya Kuningan. Tradisi sakral ini menjadi wujud bakti kepada leluhur. Tujuannya agar nilai-nilai spiritual tradisi tidak punah.
Kertha Desa Adat Bongan, I Made Wardana, menekankan pentingnya pewarisan. “Diperlukan upaya agar nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya tidak punah,” ujar Wardana.
Ritual Mesuryak secara filosofis adalah simbol penghantaran leluhur. Leluhur yang selesai dipuja pada Hari Kuningan dikembalikan ke alam semesta. Prosesi ini diwujudkan melalui sorakan gembira atau “berteriak”.
Wardana menjelaskan Mesuryak juga memperkuat rasa persaudaraan antar warga. “Selain sebagai ungkapan bakti, Mesuryak juga diyakini memperkuat rasa persaudaraan antar warga,” tambahnya.
Ritual ini dilaksanakan secara bersama-sama di desa adat. Umat melakukan ritual setelah persembahyangan selesai. Lokasi ritual adalah pintu masuk rumah hingga persimpangan jalan. Mereka menaruh banten dan uang sebagai punia.
Uang yang dihamburkan adalah simbol punia tulus. Pelemparan uang itu direbut dengan penuh sukacita oleh warga. Tradisi ini menanamkan nilai kebersamaan dan rasa syukur.
Wardana memastikan tradisi ini diwariskan secara utuh. “Tradisi ini sudah diwariskan dari generasi ke generasi sampai saat ini,” tegas Wardana.
Pelaksanaan Mesuryak diharapkan tetap lestari. Keberlanjutan tradisi ini menguatkan identitas budaya Tabanan. Kehadiran tokoh masyarakat penting menjamin orisinalitas ritual. Ritual ini membawa manfaat bagi umat dan masyarakat adat.
Tokoh masyarakat terus memastikan mekanisme Mesuryak dilaksanakan akuntabel. Nilai kepatuhan pada adat menjadi kunci pelestarian. Pelestarian ini menjaga agar tradisi tetap utuh di masa mendatang. (ang/mbn)


























