Monday, May 11, 2026
Monday, May 11, 2026

Ayunan Bingin Nusasari, Masih Jadi Favorit Warga Saat Galungan

JEMBRANA, MediaBaliNews – Ayunan Bingin yang berada Banjar Nusasakti, Desa Nusasari, Kecamatan Melaya, Jembrana, Kamis, (5/1/2023) masih menjadi favorit dikunjungi warga saat hari raya Galungan.

Dari pantauan MediaBaliNews, ayunan tradisional dari bahan kayu ini hanya ada satu, lokasinya berdekatan dengan pohon beringin besar. Itu sebabnya warga sering menyebut Ayunan Bingin. Bentuk bulat dengan jumlah tempat duduk 4 pasang untuk 8 orang baik dewasa maupun anak-anak.

Di setiap pasang tempat duduk diberikan warna yang berbeda, sehingga terlihat menjolok dan menjadi daya tarik pengunjung terutama anak-anak. Ayunan yang memiliki lingkaran diameter sekitar 4 meter dan tinggi 7 meter ini, di gerakan secara manual menggunakan tenaga manusia.

Dengan cara menginjak dan memutar tuas menggunakan kaki dan tangan secara bersamaan yang dilakukan oleh dua orang, yakni di sisi kiri dan kanan. Ketika ayunan itu berputar akan keluar suara dari gesekan antar kayu. Bunyi inilah menjadi salah satu ciri khas dari ayunan tradisional, membuat pengunjung merindukan mainan ayunan sekaligus membuat takut karena suaranya seram.

Seperti yang diungkapkan Ni Putu Ocha Ayu Jesika (10), asal Banjar Sumbersari, Melaya, mengaku awal pertama naik ayunan merasa takut, seram menegangkan, namun akhirnya ketagihan. “Pertama, pertamanya itu baru takut. Habis itu lama-lama senang naiknya,” ucapnya, ditemui MediaBaliNews di lokasi, Kamis (5/1/2023).

Sementara, Klian Adat Banjar Nusasakti I Kadek Artawan mengatakan, ayunan tradisional yang ada di wilayahnya ini tidak setiap hari beroperasi. Hanya ada di saat hari raya Galungan dan Kuningan. “Itupun hanya buka saat Galungan dan manis Galungan, lalu tutup. Kemudian buka lagi pas Kuningan dan manis Kuningan, hari lainnya tutup lagi,” jelasnya.

Artawan mengungkapkan, ayunan yang ada sejak era tahun 1970 an ini, masih sangat di minati masyarakat, terutama warga di Kecamatan Melaya. Sehingga, kata dia, ada istilah ungkapan, belum lengkap merayakan Galungan kalau belum datang naik Ayunan Bingin.

Baca Juga :  Apresiasi Tenaga Kontrak, Bupati Tamba Naikkan Gaji dan Usulkan Formasi 

“Orang itu, kalau Galungan dan Kuningan gak sempat ke sini (ayunan) kayaknya kurang nikmat atau kurang merasakan bagaimana hari raya itu. Sehingga tempat ini juga merupakan ciri khas, ikon banjar kami,” ungkapnya.

Meski sempat vakum selama musim pandemi beberapa tahun terakhir, namun saat di buka kembali warga sangat antusias bahkan membludak. Untuk harga tiket ayunan, kata Artawan, saat ini masih menggunakan harga lama sebesar Rp. 5 ribu per orang, untuk 20 kali putaran.

Selain itu, lanjutnya, untuk memancing pengunjung lebih tertarik datang berkunjung dan mencoba ayunan, pihaknya mengadakan undian tiket atau kupon yang sudah di beli oleh pengunjung yang nik ke ayunan. Namun, untuk undian tersebut berlaku hanya untuk Krama adat Nusasakti.

“Ini bagian dari inovasi kami, untuk memancing semangat para Krama adat kami, untuk mendukung kegiatan yang kami laksanakan di hari raya Galungan dan Kuningan,” jelasnya.

Disinggung terkait hasil pendapatan ayunan dalam sehari saat hari raya ? Artawan menjawab, untuk hasil penjualan tiket ayunan berkisar 1 juta hingga 1,5 juta dalam sehari. “Kalau total Galungan dan Kuningan itu bisa sekitar 5 juta,” pungkasnya. (cak/mbn)

BERITA MENARIK LAINNYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKINI