Wednesday, June 24, 2026
Wednesday, June 24, 2026

Dibuka dengan Tari Sri Jaton Linuwih, Festival Jatiluwih 2026 Resmi Dibuka

TABANAN, MediaBaliNews – Badan Pengelola dan Manajemen Operasional Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih meluncurkan sebuah karya seni baru bertajuk Tari Sri Jaton Linuwih di Kawasan Jatiluwih, Tabanan, Bali.

Kreasi seni ini diciptakan sebagai bentuk transformasi visioner untuk mengabadikan spirit keindahan alam persawahan berundak dan panorama pegunungan Jatiluwih. Jatiluwih sendiri telah diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO.

Bupati Tabanan bertindak langsung sebagai pelindung program. Tari Sri Jaton Linuwih memiliki filosofi mendalam yang berakar dari kearifan lokal. Kata Sri merujuk pada dewi kesuburan, sedangkan Jaton bermakna sebagai jimat, dan Linuwih mengisyaratkan sesuatu yang sangat bagus atau luhur.

Secara utuh, tarian ini merepresentasikan kesuburan dan lanskap alam Jatiluwih sebagai jimat agung yang mendatangkan kemakmuran, sekaligus pengingat agar kelestariannya terus dijaga demi kebermanfaatan semesta raya.

Ritme tarian berpadu harmonis dengan alunan gamelan Gong Kebyar yang dimainkan secara rancak oleh Sekaa Gong Surya Kencana Jatiluwih. Karakter visual tarian ini semakin kuat berkat balutan busana anggun hasil rancangan desainer kostum Dr. Drs. Anak Agung Ngurah Anom Mayun K Tenaya, M.Si, yang menyiratkan kemuliaan budaya lokal.

Keindahan koreografi ini dibawakan secara apik oleh sembilan penari berbakat, di antaranya Ni Putu Sindy Agustina Dewantari, Ni Putu Tiara Putri Anjani, Ni Kadek Bella Saskya, Ni Luh Intan Kusuma Dewi, dan Ni Kadek Novianingsih. Selain itu, penampilan memukau juga didukung oleh pergerakan lincah dari Ni Putu Irma Cahyani, Ni Kadek Ita Puspa Dewi, Ni Putu Ferlina Estariani, serta Ni Kadek Putri Dewantari. Melalui peluncuran karya ini, DTW Jatiluwih menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menjual panorama alam, melainkan juga memperkuat magnet wisata berbasis pelestarian adat dan kebudayaan Bali.

Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya, resmi membuka gelaran tahunan Festival Jatiluwih Ke-7 Tahun 2026 pada Sabtu (20/6/2026). Hajatan budaya yang dirangkaikan dengan ajang Bali Tourism Run menuju 100 Tahun Pariwisata Bali ini diproyeksikan menjadi motor penggerak ekonomi rakyat dan dijadwalkan berlangsung hingga Minggu (21/6/2026) besok.

Langkah strategis ini diambil guna memastikan perputaran rupiah tidak hanya mandek di tingkat korporasi besar, melainkan langsung menyentuh lapisan masyarakat paling bawah di kawasan warisan budaya dunia tersebut.

Baca Juga :  Kunjungan Wisata Stabil Pasca Lebaran, DTW Tanah Lot Fokus Siapkan Pujawali

Efek ganda dari festival alam dan budaya ini dipastikan menyasar berbagai sektor kehidupan warga, mulai dari petani, pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), hingga pekerja seni lokal.

“Ketika banyak orang datang ke Desa Jatiluwih, tentu berdampak terhadap ekonominya, berdampak kepada pariwisata, semua, maka dari itu kegiatan ini adalah penggerak ekonomi rakyat,” kata Sanjaya, Sabtu (20/6/2026).

Sanjaya memaparkan bahwa komoditas pertanian lokal seperti beras merah khas Jatiluwih dipastikan laku keras dibeli oleh para wisatawan maupun peserta festival. Hasil bumi lainnya juga terserap optimal sebagai bahan baku utama untuk usaha kuliner milik UMKM dan restoran di sekitar kawasan subak UNESCO tersebut. Tidak hanya itu, sektor jasa seperti perias pengantin dan seniman dekorasi ikut kecipratan berkah karena keterlibatan aktif mereka selama dua hari pelaksanaan acara.

Lebih lanjut, orang nomor satu di Pemkab Tabanan tersebut menegaskan bahwa esensi utama dari festival ini bukanlah sekadar mengejar status atau piagam apresiasi.

“Maka dari itu dengan festival ini selalu kita tingkatkan jumlah orang datang ke sini untuk melihat keunikan dan panoramanya, bukan kita mengejar penghargaan, tapi bagaimana memberi dampak untuk masyarakat yang paling bawah, harus terdampak terhadap ekonomi rakyat sekitarnya,” urainya.

Dampak instan dari lonjakan kunjungan ini dibenarkan oleh Ketua Panitia Festival Jatiluwih, John Ketut Purna. Ia membeberkan bahwa kehadiran hampir 2.000 peserta lari santai Bali Tourism Run menjadi katalis utama yang membuat tingkat hunian akomodasi wisata di Desa Jatiluwih membengkak drastis. Berdasarkan data panitia, puluhan penginapan, hotel, dan homestay milik warga yang biasanya mencatat okupansi di bawah 50 persen, kini posisinya dilaporkan terisi penuh.

“Efek ganda otomatis terdampak sekali bagi masyarakat Jatiluwih, semua hotel, penginapan, homestay warga penuh, bayangkan bagaimana dampaknya ke warung-warung kecil, restoran kecil, restoran yang besar juga akan banyak sekali pengaruhnya,” kata John.

Sebagai informasi, Festival Jatiluwih tahun ini menyuguhkan konsep integrasi antara keindahan alam dan aktivitas kultural. Selain pameran produk lokal dan demonstrasi pertanian tradisional, inovasi terbaru berupa lari santai menyusuri pematang subak berstatus Warisan Budaya Dunia UNESCO menjadi daya tarik utama yang berhasil memikat antusiasme tinggi dari para pelancong Nusantara. (ang/mbn)

BERITA MENARIK LAINNYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKINI