Tuesday, June 2, 2026
Tuesday, June 2, 2026

14 Tahun Tak Pernah Pulang, PMI Asal Jembrana Meninggal di Jepang

JEMBRANA, MediaBaliNews — Perjuangan panjang I Kadek Mas Heriadi alias Dek Mas (34) demi membantu ekonomi keluarga harus berakhir tragis di negeri orang. PMI asal Lingkungan Bilukpoh Kangin, Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo itu meninggal dunia di Ibaraki, Jepang setelah mengalami sakit komplikasi.

Saat ditemui dirumah duka, sang Ibu, Ni Nyoman Winarsih (59) mengatakan, dirinya masih teringat ucapan terakhir anaknya saat video call sebelum meninggal dunia.

“Pas itu sudah sulit diajak komunikasi. Saya cuma bilang kuatkan diri, segera pulih dan cepat pulang. Waktu itu dia sempat menjawab pasti akan pulang,” ungkapnya, Kamis (28/5).

Kemudian, sang Ayah, I Nyoman Wiarsana (60) menuturkan bahwa anaknya Dek Mas pertama kali berangkat ke Jepang tahun 2012 sebagai peserta magang peternakan sapi dan tidak pernah pulang selama 14 tahun.

“Kadek pertama kali berangkat waktu masih umur 20 tahun. Setelah tamat SMA sempat kerja di Denpasar, kemudian memutuskan kerja ke Jepang tahun 2012 dan belum pernah balik selama 14 tahun,” bebernya.

Menurut keluarga, hasil kerja Dek Mas di Jepang membantu memperbaiki kondisi ekonomi keluarga hingga bisa membangun rumah.

“Karena faktor ekonomi. Rumah ini menjadi bukti dari hasil si Putu dan si Kadek kerja di Jepang,” jelas Wiarsana.

Kini keluarga masih menunggu proses pemulangan jenazah almarhum dari Jepang dan berharap bisa tiba sebelum Hari Raya Galungan mendatang.

“Harapannya bisa segera pulang. Kalau bisa sebelum Galungan sehingga nanti bisa segera diaben,”. pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Dunia Pekerja Migran Indonesia (PMI) kembali berduka setelah seorang PMI asal Jembrana, I Kadek Mas Heriadi (34), dilaporkan meninggal dunia di Jepang akibat sakit yang dideritanya.

Menurut informasi, almarhum yang merupakan warga Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo, selama ini bekerja di sektor peternakan di wilayah Ibaraki, Jepang. Sebelum meninggal dunia, almarhum sempat mengeluhkan sakit pada bagian kaki yang tampak membengkak dan menjalani pengobatan di klinik terdekat.

Baca Juga :  Pemuda Jembrana Serukan Gerakan Damai dan Bijak Bermedia Sosial

Namun, lima hari menjelang wafat, kondisinya terus memburuk hingga tidak dapat bekerja dan kembali dibawa ke rumah sakit. Meski demikian, almarhum disebut menolak dirawat dan memilih pulang ke rumah karena berharap dapat segera kembali ke Bali setelah kondisi membaik.

Saat kondisi kritis tersebut, almarhum didampingi adik kandungnya, Komang Eri Wahyudi (24), yang juga berstatus sebagai pemagang di Jepang hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Minggu 24 Mei 2026. Saat ini, proses pemulangan jenazah masih dikoordinasikan oleh BP2MI bersama KBRI di Tokyo. (gsn/mbn)

BERITA MENARIK LAINNYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKINI