TABANAN, MediaBaliNews – Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Tabanan kembali menggulirkan program strategis untuk memperkuat kemandirian pangan melalui budidaya ikan tawar.
Para petugas bersama warga binaan menebar dua ribu ekor benih ikan lele di kolam asimilasi pada Jumat pagi ini. Kegiatan produktif tersebut menjadi langkah nyata pihak lapas dalam mendukung implementasi program aksi kementerian pada bidang pemasyarakatan.
“Program ketahanan pangan ini kami jalankan secara konsisten sebagai sarana pembinaan kemandirian bagi seluruh warga binaan kami,” ujar Kepala Lapas Tabanan, Prawira Hadiwidjojo, Jumat, 30 Januari 2026.
Kepala Lapas memimpin langsung proses penebaran benih di area Sarana Asimilasi dan Edukasi yang terletak pada bagian belakang kantor. Tim kelompok kerja ketahanan pangan turut mendampingi para peserta magang dalam mengelola ekosistem kolam budidaya secara intensif. Pihak lapas mengoptimalkan pemanfaatan lahan kosong untuk memproduksi sumber protein hewani guna mencukupi kebutuhan pangan lokal secara mandiri.
“Harapannya, warga binaan tidak hanya terlibat dalam kegiatan, tetapi juga memahami proses budidaya yang dapat menjadi peluang usaha ke depan,” ucap Prawira Hadiwidjojo dengan nada optimis.
Para warga binaan mendapatkan pelatihan teknis mengenai cara perawatan ikan lele mulai dari pemberian pakan hingga menjaga kualitas air. Program ini berfungsi sebagai laboratorium keterampilan praktis bagi para narapidana sebelum mereka kembali berbaur dengan masyarakat luas. Petugas berharap setiap individu mampu menyerap ilmu budidaya ikan ini sebagai modal utama untuk membuka lapangan kerja baru kelak.
“Saya jadi tertarik untuk mencoba budidaya ikan lele nanti setelah bebas karena modal usahanya tidak terlalu besar namun hasilnya cukup menjanjikan,” kata Wayan, salah satu warga binaan yang mengikuti program tersebut.
Kegiatan pembinaan ini merujuk pada lima belas program aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan yang fokus pada produktivitas warga binaan. Manajemen Lapas Tabanan secara rutin memantau perkembangan kesehatan benih lele agar tingkat keberhasilan panen mencapai target yang maksimal. Keberhasilan program ini akan menjadi standar baku dalam pengembangan sektor pertanian dan peternakan lain di dalam lingkungan penjara.
“Program asimilasi seperti ini sangat penting agar mereka memiliki mentalitas produktif dan tidak lagi mengulangi kesalahan hukum di masa lalu,” tutur Prawira menegaskan visi lembaganya.
Warga binaan menunjukkan antusiasme tinggi saat mempelajari teknik manajemen kolam yang efisien dan hemat biaya bagi pemula. Mereka juga belajar cara memitigasi penyakit ikan yang sering menyerang selama musim penghujan demi menjaga stabilitas stok pangan daerah. Integrasi antara pembinaan mental dan keterampilan ekonomi ini menjadi prioritas utama bagi jajaran pemasyarakatan di Kabupaten Tabanan saat ini.
“Kami memberikan dukungan penuh berupa fasilitas dan pendampingan agar setiap warga binaan memiliki keahlian yang bersertifikat dan diakui masyarakat,” ujarnya. (ang/mbn)


























