TABANAN, MediaBaliNews – Gelombang protes melanda Rumah Sakit Umum Daerah atau RSUD Tabanan setelah rekaman suara dokter spesialis saraf beredar luas. Dokter senior berinisial A tersebut meluapkan kekecewaan mendalam terhadap buruknya manajemen logistik farmasi di rumah sakit pemerintah itu.
Unggahan berdurasi dua menit tersebut langsung memicu kegaduhan publik karena mengungkap fakta hilangnya stok obat-obatan esensial bagi pasien.
“Mohon maaf ini sebelumnya, ini rumah sakit mau dibawa kemana ya karena satu persatu obat sudah tidak ada di depo,” ujar Dokter spesialis itu.
Persoalan ini memicu reaksi keras dari Fraksi Gerindra Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Tabanan yang menerima banyak keluhan warga. Masyarakat melaporkan bahwa keluarga pasien terpaksa membeli obat menggunakan biaya mandiri di apotek luar karena stok rumah sakit kosong. Kondisi tersebut dinilai sangat memberatkan masyarakat kelas bawah yang selama ini bergantung penuh pada layanan jaminan kesehatan nasional.
“Kami mendesak manajemen RSUD Tabanan untuk lebih proaktif dalam melakukan manajemen stok agar tidak terjadi kekosongan obat berulang,” tegas Sekretaris Fraksi Gerindra DPRD Tabanan, Wayan Wiryadana.
Politikus Gerindra itu meminta Pemerintah Kabupaten Tabanan segera mengevaluasi sistem pengadaan obat pada Dinas Kesehatan dan jajaran direksi. Ia mempertanyakan apakah masalah ini muncul akibat kendala anggaran atau proses administrasi tender yang sangat lamban dari pihak penyedia. Evaluasi total sangat diperlukan untuk menjamin kualitas pelayanan publik agar kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit pemerintah tidak merosot.
“Kekosongan obat merupakan penurunan kualitas pelayanan publik yang harus segera dibenahi oleh pihak eksekutif bidang kesehatan,” tutur Wayan Wiryadana saat memberikan keterangan kepada awak media.
Direktur RSUD Tabanan, dr. I Gede Sudiarta, memberikan klarifikasi bahwa informasi mengenai stok obat habis total tidak sepenuhnya akurat. Manajemen mengakui adanya kendala teknis pada ketersediaan beberapa jenis obat tertentu namun bukan berarti seluruh stok gudang kosong. Pihak rumah sakit sedang mengidentifikasi hambatan pasokan dari distributor serta lonjakan kunjungan pasien yang melampaui estimasi awal tahun.
“Pihak manajemen mengakui memang terjadi kendala pada ketersediaan beberapa jenis obat tertentu, namun bukan berarti seluruh stok habis,” ucap dr. I Gede Sudiarta dalam penjelasan resminya.
Manajemen kini menempuh langkah darurat dengan melakukan pembelian obat secara langsung untuk menutupi kekurangan stok dalam jangka pendek. Mereka juga menerapkan skema substitusi obat sejenis dengan kualitas setara sesuai standar medis agar terapi pasien tetap berjalan. Pihak rumah sakit berkomitmen menyelesaikan kendala administratif secepatnya guna memastikan ketersediaan obat esensial selalu terjaga selama dua puluh empat jam.
“Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan pasien dan berkomitmen segera menyelesaikan kendala administratif agar stok kembali stabil,” pungkas dr. I Gede Sudiarta menutup keterangannya. (ang/mbn)






















