TABANAN, MediaBaliNews – Pihak Manajemen Operasional DTW Tanah Lot mengambil langkah preventif dengan melarang keras segala bentuk perayaan yang menggunakan kembang api. Kebijakan ini bertujuan utama untuk memproteksi keberadaan sejumlah pura suci yang tersebar di seluruh lingkup kawasan destinasi tersebut. Pengelola tidak ingin kegiatan hiburan yang bersifat kecil justru memicu bencana besar seperti kebakaran pada bangunan sakral.
“Kami melarang penggunaan kembang api karena kawasan Tanah Lot merupakan destinasi wisata budaya agama yang memiliki banyak lingkup pura,” ujar Manajer Operasional DTW Tanah Lot, Putu Toni Wirawan, Selasa (30/12/2025).
Pihak manajemen telah menjalin koordinasi intensif dengan Kepala Pos Polisi serta unsur TNI guna mengawasi gerak-gerik setiap pengunjung. Instruksi ini juga berlaku bagi seluruh pemangku kepentingan dan pelaku usaha yang beroperasi di dalam zona inti pariwisata. Pengelola menyarankan agar masyarakat yang ingin merayakan malam pergantian tahun secara meriah sebaiknya dilakukan di luar batas kawasan suci.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Kapospol dan Kaposet agar menghimbau para pemangku kepentingan tidak melakukan kegiatan yang mencolok,” katanya.
Langkah konservasi ini diambil di tengah tren kenaikan arus wisatawan yang mulai memadati pintu masuk Bali menjelang awal tahun baru. Sejak tanggal 20 Desember kemarin, volume kunjungan harian melonjak hingga mencapai angka enam ribu orang per hari di kawasan tersebut. Mayoritas rombongan berasal dari wilayah Jawa Timur dan Jakarta yang ingin menikmati keindahan matahari terbenam tanpa gangguan kebisingan.
“Kunjungan kami meningkat dari rata-rata tiga ribu orang menjadi empat ribu hingga enam ribu orang per hari saat ini,” tuturnya.
Selain faktor keamanan pura, pengelola juga mengedepankan empati terhadap situasi nasional yang saat ini sedang mengalami berbagai musibah bencana alam. Keputusan untuk meniadakan acara hiburan besar menjadi bentuk simpati pengelola terhadap para korban bencana di beberapa daerah lain. Manajemen berkomitmen tetap menjaga estetika dan ketenangan Tanah Lot sebagai tempat meditasi serta wisata religi yang berkualitas tinggi.
“Kami menyarankan kegiatan hiburan tersebut dilakukan di desa di luar kawasan kami demi menjaga keamanan dan kenyamanan lingkungan pura,” imbuhnya.
Tren kunjungan tahunan yang mencapai satu juta empat ratus ribu jiwa menjadi tanggung jawab besar bagi pengelola dalam menjaga kelestarian lingkungan. Manajemen berharap kebijakan larangan kembang api ini mendapat dukungan penuh dari para pelancong demi kebaikan bersama di masa mendatang. Keamanan dokumen dan identitas fisik kawasan menjadi prioritas utama yang tidak dapat ditawar oleh kepentingan hiburan sesaat.
“Semua langkah ini kami ambil semata-mata untuk menjaga keamanan kawasan dari hal-hal yang tidak diinginkan seperti bahaya kebakaran,” pungkasnya. (ang/mbn)






















