JEMBRANA, MediaBaliNews – Seorang Pelajar SMA yang dikabarkan hilang saat banjir bandang di Daerah Aliran Sungai (DAS) Tukad Bilukpoh, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana masih belum ditemukan. Sebelum terjadinya peristiwa tersebut, orang tua korban sempat bermimpi buruk, hingga beberapa kali seekor burung gagak berterbangan di sekitar rumahnya.
Dari informasi yang didapatkan, pelajar Kelas III di SMAN 2 Mendoyo yang hilang terseret banjir bandang tersebut bernama lengkap I Putu Widya Margareta,17. Hilangnya korban membuat seluruh keluarga merasa terpukul. Tidak terkecuali sang Ibu yang sempat memimpikan anak pertamanya itu, sebelum kejadian naas tersebut terjadi. Bahkan korban dikenal sebagai anak yang rajin dan penurut.
Ibu kandung korban, Ni Made Astini,40 saat ditemui dirumahnya, Senin (17/10/2022) menjelaskan, sebelum kejadian hilangnya korban, dirinya sempat bermimpi buruk, dan menganggap itu hanya bunga tidur saja. “Tiga hari sebelum kejadian ini terjadi, saya sempat bermimpi bahwa anak saya (korban) diambil oleh dua orang laki-laki, namun di dalam mimpi itu saya berusaha mengambil kembali anak saya dan membawa pulang,” tuturnya.
Astini juga mengatakan, bahwa tidak ada firasat apapun mengenai kejadian tersebut. “Kalau firasat sebelumnya benar-benar tidak ada, itu hanya mimpi buruk saja, tetapi setelah mimpi buruk dua hari berturut-turut ada gagak terus berterbangan di sekitar rumah saya, cuman itu saja sih sebelumnya, tetapi anak saya itu sangat rajin, bantu ayahnya berjualan, bahkan kalau di ajak ke sawah dia tidak malu, anak saya semangat bantu orang tua,” ujarnya.
Sementara Ayah Kandung korban, I Made Eka Astama,40 saat diminta menjelaskan kronologi kejadian menuturkan, saat kejadian itu terjadi, sekitar Pukul 02.20 Wita dirinya bersama korban hendak berangkat menuju Pasar Adat Lelateng untuk berjualan sayuran (gonda), namun karena akses jalan utama ditutup akibat banjir bandang, sehingga menggunakan jalur alternatif di Jembatan penghubung antara Banjar Anyar Kaja, dengan Banjar Penyaringan, Desa Penyaringan.
“Sebelum berangkat anak saya sempat menunjukan kondisi jembatan Bilukpoh yang ditutup akibat banjir bandang, dan disarankan olehnya lewat utara (jalan alternatif). Sampai dijembatan itu saya suruh anak turun mengecek apakah bisa dilewati, dengan posisi tangan kanan memegang hp untuk senter, dan kiri memegang payung, tiba-tiba lampu senter hp anak saya mati dan anak saya sudah tidak ada, sudah terseret arus sungai,” papar Astama.
Akibat peristiwa itu, lanjut Astama, dirinya langsung melaporkan kejadian tersebut kepada petugas yang ada di sekitar jembatan Tukad Bilukpoh untuk meminta bantuan. “Saat itu saya tidak berani pulang karena takut istri histeris mendengar kabar ini, sehingga setelah melaporkan ke petugas, saya kemudian menghubungi Kepala Desa Yehembang untuk meminta bantuan bagaimana agar anak saya cepat ditemukan,” imbuhnya.
Disinggung mengenai upaya pencarian menggunakan jalur lain seperti bertanya dengan orang pintar (balian), Astama menjelaskan, bahwa sudah dilakukan oleh kerabatnya. “Jadi sudah berupaya bertanya kepada balian. Dari hasil penerawangan, bahwa anak saya masih tersangkut di sisa-sisa banjir, dan tertimbun tumpukan kayu-kayu, namun kami juga sudah melakukan upacara secara Hindu di pantai dengan harapan segera ditemukan,” paparnya.
Astama juga berharap, anak pertamanya dari empat bersaudara itu agar segera ditemukan sehingga dapat kembali berkumpul dengan keluarga. “Saya sangat menyesali peristiwa ini, kalau tahu akan seperti ini, saya tidak akan mengajak anak saya. Mudah-mudahan anak saya cepat ketemu dengan selamat, agar lancar pencarian oleh petugas, dan terimakasi untuk seluruh petugas atas semua yang sudah dilakukan, hanya itu saja keinginan kami,” pungkasnya. (jar/war/mbn)






















