Thursday, April 16, 2026
spot_img
Thursday, April 16, 2026

Sekaa Gong Wanita Dahayu Singasana Pukau Penonton di PKB XLVII Meski Sempat Tertunda Hujan

DENPASAR, MediaBaliNews — Semangat dan kekuatan perempuan Tabanan kembali terpancar dalam Parade (Utsawa) Gong Kebyar Wanita pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII Tahun 2025.

Sekaa Gong Wanita Dahayu Singasana dari Desa Dajan Peken, Kecamatan Tabanan, tampil memukau di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Denpasar. Meskipun pertunjukan sempat tertunda hampir dua jam akibat hujan deras pada Minggu (6/7) malam, para penabuh dan penari tetap tampil energik dan penuh semangat.

Penampilan ini semakin istimewa karena disaksikan langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster, Ny. Putri Suastini Koster, Wakil Bupati Tabanan, serta para kepala OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tabanan. Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya juga menunjukkan dukungan penuh dengan menonton melalui siaran langsung live streaming.

Nama “Dahayu Singasana” sendiri memiliki filosofi mendalam: “Dahayu” berarti cantik, elok, dan estetis, sementara “Singasana” berarti benteng kekuatan. Kedua kata ini menggambarkan sosok perempuan Tabanan yang tidak hanya menawan secara penampilan, tetapi juga kuat dan bersemangat dalam menjunjung nilai budaya serta berkarya untuk membangun Tabanan di Era Baru.

Dalam parade kali ini, Sekaa Gong Dahayu Singasana mempersembahkan tiga garapan utama. Yang pertama, Sandhya Gita Kaweruhan Batukau, sebuah karya yang menggambarkan keagungan Gunung Batukau sebagai sumber spiritual dan kehidupan bagi masyarakat Tabanan, menekankan pentingnya pembangunan sekala dan niskala. Penata karawitan dan vokal dipercayakan kepada I Made Putra Wantara, S.Sn, penata gerak oleh Ni Ketut Candra Lestari, S.Sn, naskah garapan oleh Jero Arum dan I Made Adi Sutrisna, serta properti pendukung oleh Gede Ersa dan Wayan Supandiyasa.

Garapan kedua adalah Lelambatan Tabuh Telu “Hulu Teben”, yang terinspirasi dari filosofi wilayah Tabanan, mencerminkan keharmonisan alam dari Gunung Batukaru, persawahan subur, hingga garis pantai Tanah Lot. Tabuh ini, yang tetap berpegang pada pakem klasik Tabuh Telu (pengawit, pengawak, dan pengecet), melambangkan rasa syukur atas kelimpahan alam dan kehidupan yang harmonis, serta menjadi refleksi arah pembangunan Tabanan menuju Era Baru yang Aman, Unggul, dan Madani (AUM). Ide garapan ini ditata apik oleh I Nyoman Sudarmika, S.Sn, dengan konsep oleh I Made Adi Sutrisna.

Baca Juga :  Dua Orang Tewas dalam Kecelakaan Lalu Lintas di Jalan Denpasar-Singaraja

Persembahan pamungkas mereka adalah Tari Margapati, tari klasik ciptaan maestro I Nyoman Kaler pada tahun 1942. Tarian ini mengisahkan kekuatan raja hutan dalam memburu mangsanya, dibawakan oleh penari perempuan dengan gerak tegas, lincah, dan ekspresif. Gerakan tari yang menggambarkan kekuatan dan keberanian ini menjadi simbol kepemimpinan yang sigap dan tangkas, mencerminkan arah pembangunan Tabanan yang progresif dan berkelanjutan. Iringan gamelan yang dinamis memperkuat suasana ketegangan dan ketegasan tarian.

Seluruh rangkaian penampilan dikemas dengan tata busana berkonsep Tri Datu, yaitu merah, putih, dan hitam, melambangkan keberanian, kesucian, dan keagungan. Warna-warna ini juga merujuk pada filosofi Trimurti dalam keyakinan Hindu dan mengandung makna harmoni alam melalui konsep Tri Angga yang melambangkan kepala, badan, dan kaki.

Meski sempat tertunda karena cuaca, penampilan para Srikandi Tabanan ini tetap memukau penonton dan mengukir kesan mendalam. Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., mengungkapkan kebanggaannya, “Saya sangat bangga dan terharu menyaksikan penampilan luar biasa dari Sekaa Gong Wanita Dahayu Singasana. Meskipun sempat tertunda akibat hujan, semangat dan dedikasi para seniman tidak luntur sedikit pun. Justru dari tantangan itulah terlihat jiwa seni dan kekuatan perempuan Tabanan yang sejati, tangguh, elegan, dan penuh makna. Penampilan ini bukan hanya persembahan seni, tetapi juga bentuk pengabdian dan cinta terhadap budaya, alam, dan tanah kelahiran. Ini adalah wajah Tabanan Era Baru yang sesungguhnya: Aman, Unggul, dan Madani.”

Melalui penampilan ini, Tabanan kembali menegaskan perannya sebagai lumbung budaya Bali, yang kaya akan sumber daya alam, kreativitas, dan semangat berkesenian yang diwariskan turun-temurun. Srikandi-srikandi muda Tabanan membuktikan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam pelestarian budaya sekaligus sebagai motor penggerak kemajuan daerah. (ang/mbn)

BERITA MENARIK LAINNYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKINI