JEMBRANA, MediaBaliNews – Penantian keluarga I Kadek Mas Heriadi (34), Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Lingkungan Bilukpoh Kangin, Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo, akhirnya mulai menemukan titik terang. Setelah melalui serangkaian proses administrasi dan koordinasi lintas negara, jenazah almarhum akhirnya dijadwalkan pulang dari Jepang ke Bali, Selasa (2/6/2026).
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Jembrana, Kadek Mirah Ananta Sukma Dewi mengatakan, perkembangan tersebut diperoleh setelah koordinasi dengan BP3MI Bali serta pihak-pihak yang membantu proses pemulangan di Jepang.
“Astungkara sudah ada kabar perkembangan (terkait proses pemulangan jenazah PMI asal Jembrana),” ungkapnya.
Menurutnya, saat ini jenazah Kadek Mas telah menjalani proses perawatan jenazah berupa embalming atau pembalsaman. Sementara itu, dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk pemulangan telah dibawa ke KBRI di Tokyo guna menyelesaikan tahapan administrasi.
Rencana repatriasi dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 5 Juni 2026 mendatang. Setelah tiba di Bali, jenazah akan dibawa menuju rumah duka di Kecamatan Mendoyo. Pemerintah Kabupaten Jembrana juga akan memberikan fasilitasi transportasi dari Bandara Ngurah Rai hingga ke rumah duka, termasuk kendaraan bagi keluarga almarhum.
Lebih lanjut, kabar kepastian jadwal pemulangan tersebut menjadi secercah harapan bagi keluarga yang selama beberapa waktu terakhir menanti kepulangan almarhum ke tanah kelahirannya untuk menjalani prosesi selanjutnya bersama keluarga dan kerabat.
“Semoga segala prosesnya dimudahkan serta dilancarkan, dan almarhum segera tiba ke kampung halamannya untuk proses lebih lanjut oleh keluarga di Bali,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, Perjuangan panjang I Kadek Mas Heriadi alias Dek Mas (34) demi membantu ekonomi keluarga harus berakhir tragis di negeri orang. PMI asal Lingkungan Bilukpoh Kangin, Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo itu meninggal dunia di Ibaraki, Jepang setelah mengalami sakit komplikasi.
Saat ditemui dirumah duka, sang Ibu, Ni Nyoman Winarsih (59) mengatakan, dirinya masih teringat ucapan terakhir anaknya saat video call sebelum meninggal dunia. (gsn/mbn)






















