Saturday, June 13, 2026
Saturday, June 13, 2026

Telur Tanpa Kandang Baterai Jadi Primadona, Perumda Jayaning Singasana Baru Cukupi 1.500 Butir

TABANAN, MediaBaliNews – Jaringan Hotel Marriott Group yang mengelola tiga puluh hotel besar telah memutuskan beralih penuh memakai telur ayam yang dihasilkan tanpa kandang baterai (free range). Keputusan ini otomatis menciptakan permintaan besar telur jenis tersebut di pasar Bali.

Kebutuhan harian yang harus dipenuhi mencapai 10.000 sampai 15.000 butir telur. Sayangnya, Perumda Jayaning Singasana baru bisa mencukupi 1.500 butir, dari total kebutuhan harian tersebut.

“Koperasi Merah Putih menjadi penjamin utama, siap menerima seluruh hasil panen peternak dan memastikan buyer pasti dari Grup Marriott,” tegas Made Pasek Darma Sugiharta, Direktur Bisnis Perumda Sanjayaning Singasana, meyakinkan prospek pasar sangat menjanjikan.

Kelompok pemerhati hewan dari Yogyakarta bahkan telah mengakui standar internasional pemeliharaan ayam free range ini. Ayam-ayam tidak dipaksa bertelur setiap hari seperti pada sistem kandang baterai. Hal ini membuat kualitas telur free range jauh lebih unggul dengan cangkang yang lebih kuat.

“Telur hasil ayam free range memiliki cangkang keras dan isinya lebih padat, berbeda jauh dari telur kandang baterai yang gampang retak,” jelas Made Pasek Darma Sugiharta, mengurai keunggulan produk yang menjadi alasan hotel premium memilihnya.

Meski permintaan tinggi, produksi telur free range cenderung menurun secara alami karena tidak adanya paksaan bertelur. Namun, kondisi ini berbanding lurus dengan peningkatan harga jual signifikan. Peternak yang menerapkan sistem free range menerima harga yang jauh lebih tinggi.

“Harga telur normal di pasar berkisar Rp 1.700, sementara telur free range bersertifikasi independen bisa dihargai Rp 2.300 per butir,” Made Pasek Darma Sugiharta memaparkan, menunjukkan insentif finansial yang didapatkan peternak.

Ironisnya, peternak di Bali belum mampu mencukupi kebutuhan masif dari jaringan hotel tersebut. Kapasitas produksi lokal masih terbatas, sehingga sebagian besar pasokan telur free range terpaksa didatangkan dari Blitar, Jawa Timur. Saat ini, hanya ada tiga peternak yang konsisten menjalankan metode free range.

Baca Juga :  Asah Kemandirian, Warga Binaan Lapas Tabanan Dibekali Pelatihan Pangkas Rambut

“Kami baru memiliki tiga peternak aktif di Bali; dua berlokasi di Desa Perean Baturiti dan satu peternak di Gianyar,” tutur Made Pasek Darma Sugiharta, menggambarkan situasi kelangkaan pemasok local.

Peternak pemula di Gadungan kini mulai mencoba peruntungan dengan bergerak di segmen free range melalui pendampingan intensif. Tantangan terbesar dihadapi peternak pemula adalah besarnya modal awal yang dibutuhkan. Satu ekor ayam siap bertelur membutuhkan investasi Rp 80.000 hingga Rp 90.000.

Keterbatasan modal, seringkali menjadi kendala peralihan gaya beternak ayam petelur ini, dan juga masyarakat memang enggan beralih karena gaya lama masih menjanjikan. Padahal, rencana ke depan bahwa ayam petelur sepenuhnya akan beralih ke Free Range.

“Peternak yang ingin memulai dengan seribu ekor ayam harus menyiapkan modal awal Rp 80 juta hingga Rp 90 juta, itu belum termasuk biaya pembangunan kandang terbuka yang sesuai standar,” Made Pasek Darma Sugiharta menyimpulkan, menegaskan perlunya sosialisasi ini. (ang/mbn)

BERITA MENARIK LAINNYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKINI