Tuesday, April 28, 2026
Tuesday, April 28, 2026

Hasil Otopsi Turis Tiongkok di Badung, Polisi Tunggu Laporan Resmi, Forensik Pastikan Tak Ada Kekerasan dan Racun

MANGUPURA, MediaBaliNews – Wisatawan Republik Rakyat Tiongkok bernama Deqingzhuoga (25) ditemukan meninggal dunia pada Selasa, 2 September 2025, di sebuah hostel kawasan Canggu, Badung. Pihak kepolisian Badung kini merampungkan penyelidikan setelah hasil otopsi merujuk pada indikasi penyakit saluran pencernaan akut.

Wakil Kepala Polres Badung, Komisaris Polisi Gede Suarmawa, menyatakan pihak berwenang menelusuri kemungkinan adanya unsur kelalaian atau sebab lainnya terkait kematian tersebut.

“Kami masih menunggu hasil resmi autopsi. Pihak berwenang menelusuri kemungkinan ada unsur kelalaian atau sebab lainnya,” kata Kompol Gede Suarmawa, Selasa petang.

Polisi mengamankan barang bukti penting dari kamar korban. Wakapolres Badung menjelaskan bahwa korban sudah meninggal dunia saat petugas medis tiba.

“Petugas medis menyatakan korban sudah meninggal dunia. Mereka tidak menemukan denyut nadi korban,” ujar Wakapolres.

Barang bukti itu termasuk dua botol plastik berisi muntahan berwarna cokelat dan putih keruh. Kompol Gede Suarmawa menjelaskan pentingnya barang bukti tersebut:

“Kami mengamankan dua botol berisi muntahan. Ini akan menjadi barang bukti penting untuk mengetahui penyebab pasti kematian,” beber Kompol Gede Suarmawa.

Kepala Instalasi Forensik RSUP Sanglah, Kunthi Yulianti, merilis laporan otopsi resmi yang menegaskan bahwa tidak ada tanda-tanda kekerasan fisik.

“Kami telah merampungkan laporan otopsi berdasarkan pemeriksaan mendalam. Laporan tersebut menunjukkan bahwa kami tidak menemukan tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh korban, kecuali luka yang berhubungan dengan tindakan medis,” ujar Kunthi Yulianti.

Pemeriksaan luar hanya menunjukkan luka berbentuk titik di lengan bawah kanan sisi dalam. “Luka di lengan bawah kanan itu memiliki pola yang konsisten. Itu sesuai dengan gambaran luka yang biasa timbul akibat prosedur medis,” tambah Kunthi Yulianti menjelaskan temuannya secara akurat.

Baca Juga :  Progres Pembangunan Relokasi Pasar capai 70%, Bupati Tamba minta Pedagang Bersiap

Pemeriksaan terkait dengan racun di Laboratorium Forensik menguatkan kesimpulan medis. “Pemeriksaan laboratoris kriminalistik sudah kami terima. Semua sampel yang diperiksa tidak mendeteksi adanya senyawa beracun apa pun yang mungkin menjadi pemicu kematian,” kata Kunthi Yulianti.

Tim forensik memfokuskan pemeriksaan pada organ dalam untuk mengungkap pemicu kematian.

“Kami menemukan adanya bercak-bercak perdarahan kecil. Ada juga pelebaran pembuluh darah pada selaput lendir lambung korban,” ungkap Kunthi Yulianti.

Temuan lain yang mengindikasikan iritasi parah adalah cairan berwarna hitam kehijauan pada rongga lambung.

“Selain itu, rongga usus besar kami temukan dalam keadaan kosong. Ini adalah tanda-tanda khas yang menguatkan adanya penyakit diare akut,” terang Kunthi Yulianti.

Kunthi Yulianti menyatakan bahwa penyebab kematian adalah karena kondisi internal ini.

“Sebab mati karena iritasi saluran pencernaan yang menimbulkan diare kemudian mengakibatkan kekurangan cairan dan elektrolit, tidak dapat kami singkirkan dari kesimpulan,” tutup Kunthi Yulianti.

Laporan resmi otopsi ini kini menjadi pegangan utama pihak kepolisian untuk merampungkan seluruh proses penyelidikan. (ang/mbn)

BERITA MENARIK LAINNYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKINI