Saturday, April 18, 2026
spot_img
Saturday, April 18, 2026

Terbelit Faktor Ekonomi Gusti Putu Ediana Nyaris Tak Bersekolah

JEMBRANA, MediaBaliNews – Faktor ekonomi sering kali menjadi alasan seseorang untuk berhenti bersekolah. Seperti yang pernah terbesit dalam benak Kepala Desa Mendoyo Dauh Tukad, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana Gusti Putu Ediana (43) yang tidak ingin melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) setelah lulus di Sekolah Menengah Pertama(SMP). Pasalnya, pada saat itu, terbelit dengan permasalahan ekonomi yang serba kekurangan. Selasa (15/11/2022)

Anak pertama dari Gusti Putu Darma yang bekerja sebagai petani dan mempunyai usaha kopra dengan Gusti Ayu Ketut Suedi yang menjadi ibu rumah tangga lahir pada 13 Desember 1979, kini sudah menikah dengan Gusti Ayu Putu Asriani dan dianugrahi lima orang anak yang terdiri dari Gusti Ayu Putu Perami Dewi (22), Gusti Ayu Kd Sri Sedani Rahayu (20) yang sama-sama masih melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dan Gusti Ayu Komang Novi Sudiantari (17) tahun bersekoah di Sekolah Menengah Atas (SMA), Gusti Ketut Ardi Merta Wiguna (10) kelas 4 di Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Mendoyo Dauh Tukad, serta anak terakhir Gusti Putu Prananda Satya Wiguna yang baru berusia 2,5 tahun.

Kepala Desa Ediana mengatakan, dirinya sempat ingin berhenti bersekolah setelah lulus dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) di karnakan faktor ekonomi keluarga. ”Syukur-syukur saat itu Pak Wastika mencari saya kerumah mengajak saya bersekolah di Sekolah Menengah Atas (SMA) Saraswati Negara. Sehingga saya bisa tamat SMA. Jadi perjalanan pendidikan saya dari Taman Kanak-kanak (Tk) Balita Mekar lulus pada tahun 1985, Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Mendoyo Dauh Tukad lulus pada tahun 1991, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Mendoyo lulus pada tahun 1994, Sekolah Menengah Atas (SMA) Saraswati Negara lulus tahun 1997,”ujarnya.

Baca Juga :  Hendak Berangkat Bersekolah, Seorang Pelajar SMA Tewas Tertimpa Pohon Tumbang di Gilimanuk

Sebelum dilantik menjadi Kepala Desa pada tahun 2018, Ediana sempat menjadi anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) selama 2 periode pada tahun 2006 sampai pada tahun 2016 di Desa Mendoyo Dauh Tukad. ”Kita tidak mengetahui perjalanan hidup masing-masing. Semua sudah di atur oleh yang di atas. Saya hanya bisa bersyukur dan berterimakasih atas kesempatan yang sudah diberikan. Jadi ini jelas atas dukungan seluruh lapisan masyarakat Mendoyo Dauh Tukad. Mungkin beliau (masyarakat red-) sudah mengetahui saya baik. Sehngga saya dipercaya untuk menjadi Kepala Desa,” tegasnya.

Disela-sela kesibukannya sebagai Kepala Desa Mendoyo Dauh Tukad, selalu menyempatkan diri berolahraga sperti bola volly dan sepak bola. Ediana juga mempunyai usaha yang bergerak dibidang pengadaan kayu yang beralamat di Banjar kepuh, Desa Mendoyo Dauh Tukad yang dirintisnya sejak tahun 2005 hingga saat ini. “Astungkara semua bisa saya lalui, sehingga usaha saya jalan. Kan kasian kalau usaha ditinggal hanya gara gara menjadi kepala desa. Namun meskipun demikian, fungsi saya sebagai Kepala Desa tetap menjadi prioritas karna saya sebagai pelayan masyarakat. Jadi harus menyerahkan jiwa dan raga saya kepada masyarakat. Nah terlepas dari keseharian itu, baru nanti kegiatan-kegiatan sampingan yang mendukung perekonomian keluarga yang saya prioritaskan,” pungkasnya. (gsn/dpm/mbn)

BERITA MENARIK LAINNYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKINI