JEMBRANA, MediaBaliNews – Sebanyak 43 ekor penyu hijau dari berbagai ukuran diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, Jumat (13/1/2023). Puluhan penyu yang diamankan aparat TNI AL Gilimanuk, pada Kamis malam (12/1) tidak semua dalam kondisi sehat. Untuk itu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali akan melakukan perawatan hingga sehat, sebelum nantinya dilepasliarkan kembali.
Kasubag TU BKSDA Bali, Prawono Meruanto mengatakan, penyelundupan puluhan penyu hijau usia sekitar 5 hingga 40 tahun berhasil digagalkan berkat kesigapan para personil TNI AL gabungan, sehingga satwa yang dilindungi tersebut berhasil diselamatkan. Namun, kondisi penyu-penyu tersebut tidaklah semuanya sehat, diantaranya ada yang sakit, menempel tritip yang sudah menahun hingga ada penyu yang mengalami tumor.
“Penyu setelah nanti diserahkan oleh teman-teman TNI AL, akan kami sehatkan kembali. Karena beberapa tadi sempat kita pantau, ada penyu yang memang ada tumor, dibeberapa bagian tubuh, kemudian ada nempel tritip yang sudah menahun dan udah masuk ke dalam pori-pori karapas. Sehingga nanti mungkin kita akan bersihkan terlebih dahulu, kemudian memastikan mereka benar-benar sehat, baru kita lepas ke alam,” kata Prawono.
Sementara, kata dia, puluhan biota laut yang dilindungi tersebut akan dititipkan pada Jaringan Satwa Indonesia yang berada di Teluk Banyuwedang, Kabupaten Buleleng. Penyu dari ukuran kecil 49 cm, hingga penyu dewasa ukuran 1 meter tersebut akan dilakukan perawatan secara intensif.
“Nanti kita sama-sama bawa ke sana. Kemungkinan untuk beberapa saat, dan akan dilakukan pemeriksaan beberapa tindakan yang akan dilakukan oleh teman-teman dokter di sana,” ungkapnya.
Menurutnya, penyu merupakan salah satu satwa purba, bagian dari ekosistem laut dan satwa yang sangat dilindungi. Penyu sendiri, kata dia, ada 7 jenis di seluruh dunia dan 5 jenis penyu tersebut ada di Indonesia, tersebar di perairan laut Indonesia dan semuanya sudah dilindungi undang-undang. “Jadi kepada masyarakat, kepada teman-teman untuk tetap menjaga ekosistem laut termasuk salah satunya adalah penyu,” ucapnya.
Karena, kata dia, jika memang populasi penyu itu berkurang, atau bahkan sudah tidak ada, pasti yang namanya ekosistem juga akan berubah. Namun, pihaknya saat ini bekerjasama dengan belasan kelompok pelestari penyu yang ada di Bali, sehingga setiap tahun bisa melepasliarkan ribuan tukik.
“Dan alhamdulillahnya Balai KSDA Bali mempunyai 14 kelompok pelestari penyu yang ada di provinsi Bali ini. Dan semua hampir setiap tahun, kurang lebih sekitar seribu hingga 2 ribu mereka melepasliarkan tukik kembali ke alam, namun lebih banyak jenis penyu lekang yang memang sering mendarat di provinsi Bali,” ungkapnya.
Disinggung terkait temuan hasil penyu yang diduga penyeludupan ke Bali ? Pihaknya mengatakan, hingga akhir tahun 2022 pernah sekali ada penangkapan oleh TNI AL itupun terjadi pada akhir tahun 2021 lalu. Namun sepanjang 2022 hampir tidak ada temuan penyu.
“Kalau karena cuaca, beberapa kali di pantai Kedonganan dan di pantai Kuta, terakhir kemarin di pantai Batu Belig, itu kita pernah temukan beberapa penyu itu yang memang karena cuaca, karena hempasan ombak, dan sampah-sampah kayu itu yang membuat mereka terdampar dan mereka mati di pantai. Penangkapan sampai saat ini, (kurun waktu 2022) alhamdulilah belum pernah,” pungkasnya. (cak/mbn)






















