TABANAN, MediaBaliNews – Desa Jatiluwih, Tabanan, Bali, kembali hidup dalam semarak festival tahunan. Jatiluwih Festival keenam kini resmi dibuka. Acara ini merayakan keindahan alam serta kekayaan budaya.
Ketua Panitia Jatiluwih Festival 2025, I Ketut Purna—akrab disapa Pak John—mengungkapkan kebanggaannya. “Kehadiran Bapak, Ibu, dan seluruh undangan hari ini menjadi penyemangat besar bagi kami—bahwa apa yang sedang kami jaga dan perjuangkan di desa ini, juga dirasakan dan didukung oleh banyak pihak,” cetus Pak John. Tema tahun ini, “Tumbuh Bersama Alam (Growth with Nature)”, menjadi inti perayaan.
Tema “Growth with Nature” tidak sekadar slogan. Ia mencerminkan komitmen desa untuk berkembang seiring menjaga keseimbangan ekosistem. “Growth with Nature adalah ajakan untuk membangun kesejahteraan dengan menghormati siklus, menjaga ekosistem, dan memperkuat budaya hidup yang berkelanjutan,” tambah Pak John. Festival ini juga menjadi ajang promosi nilai-nilai luhur Jatiluwih.
Jatiluwih telah lama mengukir nama di kancah global. UNESCO mengakui desa ini sebagai Warisan Budaya Dunia. UN Tourism bahkan menobatkannya sebagai Desa Terbaik Dunia pada 2024. “Hari ini, kita tidak hanya meresmikan sebuah festival. Kita sedang menyampaikan kepada dunia bahwa desa kecil di kaki Batukaru ini—Jatiluwih—punya cerita besar yang ingin dibagikan,” ujar Pak John. Masyarakat Jatiluwih mempertahankan nilai-nilai luhur, seperti gotong royong dan kebersamaan.
Festival ini menampilkan budaya sebagai sumber energi yang tak lekang oleh waktu. Pementasan Tarian Maskot Desa Jatiluwih menjadi sorotan utama. “Tarian maskot Desa Jatiluwih yang kami Tampilkan Perdana hari ini menjadi simbol regenerasi, kolaborasi dan Fashion Show Perdana Custum Carnival Jatiluwih Dewi Sri dan Jatayu—warisan budaya masyarakat desa jatiluwih yang dikemas untuk membangun semangat baru bagi generasi muda,” papar Pak John. Fashion Show Custom Carnival Dewi Sri dan Jatayu turut memukau penonton.
Berbagai kegiatan interaktif turut memeriahkan festival. Pengunjung dapat mengikuti lokakarya kuliner tradisional, menyaksikan kompetisi pelajar, dan menikmati pertunjukan seni. “Di sinilah masyarakat tidak hanya dilibatkan, tetapi menjadi pelaku utama. Inilah wajah Jatiluwih hari ini: desa yang menjaga nilai lama dengan semangat zaman,” lanjut Pak John. Pameran UMKM lokal juga menarik banyak pengunjung.
Panitia festival sangat peduli terhadap pertumbuhan ekonomi warga. Oleh karena itu, festival ini menjadi panggung utama bagi UMKM lokal. “Ini bukan sekadar jualan—ini cara kami membangun kesejahteraan bersama,” tegas Pak John. Produk yang mereka tawarkan mencakup kerajinan tangan hingga aneka kuliner khas Jatiluwih.
Pak John mengajak semua pihak untuk terus mendukung semangat ini. Ia menekankan pentingnya kerja sama dan gotong royong. “Saya mengajak seluruh warga dan pihak yang hadir hari ini, mari kita jaga semangat ini. Bersama kita bisa! Dengan gotong royong, kekompakan, saling menghormati, dan kerja sama, kita bisa membuat Jatiluwih tetap lestari, semakin maju, dan sejahtera,” tutupnya. (ang/mbn)


























