JEMBRANA, MediaBaliNews – Ironis, disaat masa panen raya petani padi di Jembrana belum habis, harga gabah justru turun. Meski hasil panen biji padi saat ini terbilang bagus, namun anjloknya harga gabah membuat para petani menjerit kebingungan.
Bahkan, anjloknya harga gabah ini, tidak mempengaruhi harga beras yang terus merangkak naik. Sehingga beberapa petani merasa bingung dengan kondisi harga gabah yang miris, bahkan cenderung merugikan para petani. Seperti yang diungkapkan I Komang Serka (47) salah satu petani di Subak Benel, Desa Kaliakah, Negara.
“Harga gabah sekarang terus menurun, tyang dados (saya jadi) petani bisa rugi niki. Tiap tiga hari sekali turun 300 rupiah. Sekarang harganya hanya Rp. 5 ribu per kilo. Kalau harga minimal 5.500 masih mending lah,” kata Serka, ditemui saat panen padi di Subak Benel, Desa Kaliakah, Negara, Rabu (22/2).
Menurutnya, dengan harga gabah mengalami penurunan, otomatis petani akan merugi, apalagi harga sampai di bawah Rp 5 ribu. Padahal sebelumnya, kata dia, harga gabah sempat dikisaran Rp 5.800 hingga Rp. 5.900 per kilogram. “Kalau nggak salah sepuluh hari yang lalu masih harga 5.900,” ucapnya.
Hal senada diungkapkan Wayan Eka Wiasa (59), petani lain asal Desa Kaliakah mengaku sedih dengan kondisi harga gabah yang terus mengalami penurunan. “Nah ini sangat menyedihkan bagi para petani, apalagi sebagai petani, sarana produksi seperti pupuk, obat-obatan, itu boleh kita katakan harganya masih tetap tinggi,” ungkapnya.
Eka Wiasa menjelaskan, biaya produksi padi yang dikeluarkan dari mulai proses menanam hingga proses panen sekitar Rp. 12 juta hingga Rp. 14 juta, dengan estimasi hasil gabah sekitar 5 sampai 6 ton per hektar. Biaya tersebut belum tentu bisa kembali jika, harga gabah terus anjlok. Belum lagi petani sering terancam gagal panen.
Selain itu, kita dia, sebagai petani ingin pendapatan penghasilan lebih dari apa yang kerjakan, terlebih saat masa panen raya seperti ini. Justru menurutnya, para petani merasa menyesal dengan pekerjaan yang dilakukan, akibat biaya dikeluarkan tidak sesuai dengan hasil yang didapatkan oleh petani.
“Padahal kita tahu bahwa beras per kilo hari ini sudah beranjak sampai 12.000, bahkan bisa lebih. Nah ini kalau toh memang dibiarkan seperti ini, berarti kan menyedihkan bagi petani. Makanya kapan petani itu bisa bahagia. Kan intinya pengen bahagia semuanya, termasuk para petani,” ujarnya.
Disinggung terkait penyebab anjloknya harga gabah, pihaknya mengatakan ini ulah oknum yang tidak bertanggungjawab, hanya ingin mendapatkan untung yang besar, namun mengorbankan para petani. Tetapi, kata dia, itu hanya sebatas praduga saja.
“Bukan kami menuduh, tapi menduga bahwa ini permainan daripada para penebas. Para penebas itu yang masuk, terutama ke Subak Benel ini, dari berbagai daerah dan menawar harga seenaknya. Namanya petani itu kan sebagian besar manut, kalau tidak di panen padinya terlalu tua kasian. Akhirnya terpaksa mereka jual,” pungkasnya.
Di sisi lain, Bupati Jembrana I Nengah Tamba, melakukan langkah nyata untuk memberikan solusi masalah anjloknya harga gabah petani saat panen raya. Salah satunya membangun Sentra Pengolahan Beras Terpadu (SPBT). Menurutnya, pembangunan SPBT dilahan subak seluas 3500 meter persegi ini diharapkan menjadi jawaban atas keluhan para petani yang sering menyampaikan harga gabah kurang sesuai, ketika memasuki masa panen raya.
“Solusinya harus ada pabrik pengolahan gabah yang bisa menjaga stabilitas harga gabah. Saya bertemu bapak Menteri BUMN, saya bicarakan masalah petani, astungkara Pak Menteri menerima dengan baik dan dihubungkan lah saya dengan Bank Mandiri,” kata Bupati Tamba, saat melaksanakan peletakan batu pertama SPBT di Subak Tibu Beleng, Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, Rabu (22/2).
Melalui pembangunan SPBT ini, kata dia, diharapkan mampu memproduksi beras sebanyak 3 ton per jam. Sehingga, dengan jumlah produksi yang semakin meningkat mampu menjaga stabilitas harga gabah dan beras.
“Harapan saya semua petani kita bisa mendapat kesejahteraan dari keberadaan SPBT ini. Kemudian juga bisa menjaga stabilitas harga gabah dan juga bisa menurunkan harga beras. Ini harus memberikan manfaat kepada petani dan masyarakat Jembrana,” pungkasnya. (cak/mbn)























