TABANAN, MediaBaliNews – Manajemen Daya Tarik Wisata (DTW) Ulun Danu Beratan menyiapkan perhelatan seni budaya besar-besaran untuk menyambut momentum libur Natal dan Tahun Baru.
Sebanyak 20 desa adat yang tergabung dalam Gebok Pura Ulun Danu dilibatkan secara aktif dalam pementasan rutin di kawasan danau. Upaya ini merupakan langkah nyata pengelola untuk menjadikan seni budaya sebagai magnet utama penarik kunjungan wisatawan ke wilayah Tabanan.
“Kami menampilkan seni budaya yang melibatkan dua puluh desa adat guna memberikan pengalaman autentik bagi para pelancong yang berkunjung ke sini,” ujar Humas Manajemen DTW Ulun Danu Beratan, I Made Sukarata, saat menjelaskan agenda tahunan tersebut.
Pihak manajemen mengucurkan dana pembinaan total senilai Rp25 juta bagi setiap desa adat yang berpartisipasi dalam festival seni ini. Setiap desa wajib mementaskan tari maskot yang merupakan karya seni orisinal hasil ciptaan masing-masing wilayah adat. Kebijakan ini diambil untuk mendorong kreativitas seniman lokal sekaligus melestarikan khazanah tari Bali yang sangat beragam dan kaya akan filosofi.
“Kami memberikan dana pembinaan khusus tari maskot karena menciptakan sebuah tarian dari awal memerlukan apresiasi serta dukungan finansial yang cukup besar,” katanya.
Melalui pendekatan berbasis budaya ini, angka kunjungan wisatawan perlahan menunjukkan grafik peningkatan yang sangat menggembirakan bagi warga setempat. Saat ini jumlah pengunjung harian telah menyentuh angka 1.900 orang setelah sebelumnya sempat tertahan pada kisaran seribu orang lebih. Kehadiran para pelancong mancanegara yang mencapai 60 persen komposisi pasar menjadi angin segar bagi kelangsungan ekonomi masyarakat lokal.
“Kenaikan angka kunjungan ini mulai terlihat dalam empat hari terakhir dan kami memprediksi puncaknya akan terjadi pada awal Januari mendatang,” tuturnya.
Manajemen juga menggelar acara open house bagi para pemandu wisata, supir, serta agen perjalanan yang membawa tamu ke Ulun Danu. Kegiatan ramah tamah ini bertujuan untuk mempererat silaturahmi serta memberikan apresiasi kepada para mitra yang selama ini mempromosikan pariwisata Bali. Strategi pelayanan prima ini diharapkan dapat mempertahankan loyalitas wisatawan asing maupun domestik agar tetap memilih Bali sebagai destinasi liburan utama.
“Kami menyiapkan acara open house dan makan bersama bagi para guide serta sopir sebagai bentuk apresiasi atas kerja sama mereka selama ini,” jelasnya.
Langkah konservasi budaya ini menjadi benteng pertahanan utama Bali dalam menghadapi persaingan destinasi wisata global yang semakin kompetitif. Pengelola meyakini bahwa kekuatan budaya yang mengakar kuat di masyarakat tidak akan mudah tergantikan oleh destinasi wisata manapun di dunia. Integrasi antara pelestarian adat dan manajemen wisata yang modern diharapkan mampu membawa Ulun Danu Beratan terus eksis melintasi zaman.
“Bali tidak mungkin ditinggalkan oleh wisatawan selama kita tetap mampu mempertahankan keunikan budayanya sebagai daya tarik utama yang sangat berharga,” pungkasnya. (ang/mbn)






















