JEMBRANA, MediaBaliNews – Memulai sesuatu hal tentu tidaklah mudah, harus ada proses panjang untuk mencapai kata sukses. Berkecimpung didunia bisnis tentu ada tantangannya masing-masing tergatung dari objek bisnis apa yang diambil, salah satunya yakni bisnis peternakan. Banyak dari kaum milenial bahkan orang dewasa yang gagal dalam bisnis peternakan karena hanya sekedar ikut-ikutan dan tidak secara serius dalam menekuninya.
Hal tersebut disampaikan, Ni Putu Ria Puspita (35) salah satu warga Banjar Taman, Desa Tuwed, Kecamatan Melaya, yang sukses menekuni bisnis peternakan babi sejak tahun 2015 silam.
Ditemui di Ria Fam, Selasa (6/12/2022), Ria Puspita menuturkan mengawali berternak babi dimulai dari tahun 2015 dimana memulai dari memelihara dua ekor babi penggemukan dan dari situ belajar memahami karakter ternak babi.
“Seiring berjalannya waktu, Saya sudah paham basic dan hal mendasar dari beternak babi hingga berani memulai memelihara indukan hingga kini sudah memelihara 6 ekor babi penjantan, 100 ekor babi indukan, puluhan ekor babi penggemukan siap jual serta puluhan anak babi yang baru lahir,” ungkapnya.
Ditanya terkait kiat-kiat beternak babi dalam jumlah besar, Pihaknya menyarankan mulai memelihara babi penggemukan terlebih dahulu.
“Jika ingin beternak babi yang baru memulai dari nol itu harus belajar dari memelihara babi penggemukan terlebih dahulu. Dimana kita harus belajar memahami karakter babi. Saat babi sakit ciri-cirinya seperti apa, dan hal-hal lainnya sehingga tahu tindakan apa untuk mengatasinya. Itu semua harus betul-betul dipahami sebelum memulai yang lebih besar,” jelasnya.
Lanjut Ria, hal terpenting dalam menekuni sesuatu hal harus konsisten dan ulet. Hal itu juga berlaku jika ingin beternak babi, tidak boleh hanya sekedar memelihara jika ingin hasil yang jelas. Banyak peternak musiman yang menyebabkan harga babi menurun, dimana hal tersebut sangat berdampak bagi peternak asli yang tidak mendapatkan hasil maksimal.
“Jika hanya ingin sekedar ternak babi mending tidak usah, dari pada buang-buang modal. Kalau sekarang ingin ternak babi minimal punya kandang, belum lagi biaya perawatan dan biaya beli bibit segala macem. Hal ini juga yang menyebabkan harga babi menurun karna babi banjir di pasaran yang berdampak bagi kami yang benar-benar peternak babi, ” ungkapnya.
Wanita kelahiran 1987 tersebut juga mengungkapkan bahwa banyaknya anak muda dan masyarakat yang ingin memulai beternak namun tidak ingin belajar dari nol. “Iya, banyak anak muda yang ingin beteranak babi namun hanya memikirkan hasil yang instan dan tidak mau berproses. Padahal jika ingin berhasil di ternak kuncinya itu harus konsisten bukan musiman jika ingin serius menekuni ternak babi, ” pungkasnya. (gsn/mbn)


























