JEMBRANA, MediaBaliNews – Hingga saat ini, Jumat (23/11/2022) warga korban banjir bandang khususnya yang berada di Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, masih banyak yang menolak untuk direlokasi. Meski pihak pemerintah sudah mensosialisasikan adanya rencana relokasi rumah warga, namun sebagian besar warga ingin bertahan di tempat yang lama.
Perbekel Desa Penyaringan I Made Dresta mengatakan, untuk relokasi warga korban bencana banjir bandang, khususnya di Banjar Anyar Kelod, Desa Penyaringan, sebagian besar menolak. Bahkan dari jumlah 20 KK rumah yang rusak parah, hanya 6 KK yang bersedia untuk direlokasi.
“Pemerintah desa hanya bersifat menyarankan, selanjutnya kembali kepada warga masing masing. Masih banyak yang tidak mau untuk direlokasi dengan alasan yang berbeda beda, dan itu hak mereka,” kata Dresta saat dikonfirmasi MediaBaliNews lewat sambungan telepon, Jumat (25/11/2022).
Menurutnya, warga terdampak merasa berat meninggalkan rumah lama mereka, karena warga harus memulai hal baru di tempat yang baru, terutama terkait masalah pekerjaan warga sehari hari. Selain itu, lanjutnya, biaya untuk membangun rumah juga tidak sedikit yang dikeluarkan, meski di bantu dari pemerintah.
“Mereka (warga) banyak yang bilang masalah biaya membangun rumah dari awal lebih banyak di keluarkan jika harus pindah, ketimbang memperbaiki rumah yang rusak saat ini,” ujar Perbekel menirukan alasan warga.
Dresta juga mengatakan, warga saat ini yang berada di pinggiran sungai terutama yang berada di sebelah timur jembatan perbatasan lingkungan Biluk Poh Kangin, Kelurahan Tegalcangkring dengan Banjar Anyar, Desa Penyaringan berharap pemerintah bisa segera melakukan perbaikan tanggul dan normalisasi sungai. “Biar seperti sungai sebelumnya tanggulnya tinggi dan sungainya dalam, sehingga ketika air meluap lagi tidak terlalu tinggi dan membahayakan warga,” tuturnya.
Meski demikian pihaknya tetap berupaya maksimal untuk terus mensosialisasikan kepada warga terdampak terkait rencana relokasi dan memberikan pemahaman akan bahaya jika tetap tinggal di lokasi pinggiran sungai. Karena sewaktu waktu bisa saja terjadi banjir kembali.
“Kita sudah terus turun langsung ke warga terdampak, memberikan pemahaman terkait relokasi ini. Namun, sekali lagi, kita sifatnya hanya menyarankan dan memberikan support, keputusan tetap ada di pihak warga sendiri,” ungkapnya.
Selain itu, kata dia, warga juga enggan pindah dikarenakan relokasi tempat lumayan jauh dari tempat tinggalnya yang lama. “Ada dua lokasi di Banjar Tibu Beleng Tengah dan Banjar Pangkung Kuwo, jaraknya sekitar 5 kilometer. Semuanya tanah milik provinsi,” pungkasnya.
Ditemui MediaBaliNews di rumahnya, Kamis (24/11/2022), Ni Kadek Suarsini, (40) menuturkan, untuk relokasi dirinya dan keluarga saat ini masih memilih bertahan tinggal di tempat yang lama, meski pemerintah sudah mensosialisasikan relokasi pasca banjir bandang beberapa waktu lalu. “Kita bisa ikut, bisa juga tidak. Artinya, pemerintah tidak memaksa,” kata Suarsini di dampingi suaminya I Ketut Suastama, (43).
Ibu tiga anak ini mengaku, selama 23 tahun ia bersama keluarga tinggal di Banjar Anyar Kelod, Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, merasa berat jika harus pindah di tempat yang baru, meski rumahnya saat ini masih perlu banyak perbaikan. “Baru selesai saya memperbaiki merajan (pura keluarga). Ya bertahap (perbaikannya), daripada saya harus pindah dan harus membuat rumah dari awal lagi,” ucapnya.
Tinggal dilahan seluas 6 are, Suastini dan keluarga yang terdiri dari 3 KK ini sangat berharap pemerintah segera melakukan upaya antisipasi bencana banjir. Karena menurutnya, warga yang tidak memilih untuk direlokasi masih banyak dan mereka masih bertahan tinggal di lokasi. “Kalau bisa supaya segera ada perbaikan tanggul sungai dan jembatan bisa lebih ditinggikan lagi,” harapnya.
Warga lain, I Gede Wardika, (59) Lingkungan Biluk Poh Kangin, Kelurahan Tegalcangkring, justru memilih direlokasi karena rumah yang dia tempati dilahan seluas 11 are hilang terbawa banjir. Disamping itu, karena tempat relokasinya tidak jauh dari tempat tinggalnya yang lama. “Saya ikut relokasi karena rumah saya sudah hilang semua, hanya pondasi yang tersisa,” ujarnya. (cak/mbn)






















