Wednesday, April 22, 2026
Wednesday, April 22, 2026

Semburat Bali: Wajah Jujur Pulau Dewata di Labyrinth Art Gallery

TABANAN, MediaBaliNews – Labyrinth Art Gallery di kawasan Nuanu Creative City resmi membuka pameran kelompok bertajuk Semburat Bali pada Sabtu ini. Kurator Samuel David menyusun pameran ini untuk menangkap denyut nadi kehidupan masyarakat Bali yang sedang mengalami perubahan pesat. Pengunjung dapat menyaksikan beragam karya yang lahir dari persilangan tradisi lokal dengan dinamika budaya digital global saat ini.

“Labyrinth hadir untuk memberi ruang bagi seniman agar merespons realitas perubahan Bali secara jujur melalui karya mereka,” ujar Kelsang Dolma, Gallery Director Labyrinth Art Gallery.

Pameran yang berlangsung hingga 22 Maret 2026 ini menampilkan karya dari dua belas seniman lintas latar belakang budaya. Para perupa mengeksplorasi lapisan identitas Bali melalui medium lukisan, instalasi, hingga seni kontemporer yang sangat eksperimental. Kehadiran karya-karya tersebut mencerminkan negosiasi terus-menerus antara warisan leluhur dan tuntutan gaya hidup masyarakat modern sekarang.

“Pameran ini menawarkan pandangan lebih dekat pada realitas sehari-hari dan gagasan-gagasan yang hidup di dalamnya secara kompleks,” kata Samuel David, Kurator Semburat Bali.

Nuanu Creative City yang memiliki luas empat puluh empat hektar menjadi latar belakang utama pameran seni rupa ini. Penyelenggara ingin membangun ekosistem kreatif yang peka terhadap konteks lingkungan serta perubahan sosial di sekitar wilayah tersebut. Proyek ambisius ini memposisikan seni sebagai ruang pertemuan penting bagi para seniman, publik, dan lingkungan alam Bali.

“Nuanu dibangun di Bali dan harus selalu relevan dengan konteks sosial masyarakat Bali itu sendiri secara mendalam,” ujar Kelsang Dolma menambahkan penjelasannya.

Seniman seperti Ni Wayan Wicitra Pradnyaratih dan Agus Mediana membawa perspektif personal mereka tentang kehidupan sosial di Bali. Sebagian seniman lahir di Bali, namun sebagian lainnya adalah pendatang yang telah lama menetap dan berbaur dengan warga lokal. Perbedaan latar belakang ini menghasilkan narasi visual yang kaya tentang bagaimana Bali hari ini menjalani proses transformasi kebudayaan.

Baca Juga :  Amuk Si Jago Merah di Desa Cepaka, Bangunan Tiga Lantai Ludes Terbakar

“Berdialog dengan rekan-rekan di Bali membuat saya melihat Bali melampaui wajah ornamen yang sering ditampilkan publik,” tutur Samuel David dalam keterangannya.

Pameran Semburat Bali tidak berusaha memberikan satu definisi tunggal mengenai apa itu identitas Bali yang sebenarnya bagi publik. Setiap karya justru menjadi undangan bagi penonton untuk mempertanyakan kembali asumsi lama mereka tentang citra Pulau Dewata selama ini. Labyrinth Art Gallery berfungsi sebagai ruang temu bagi gagasan-gagasan kritis yang berani mengamati sekaligus memahami kompleksitas kehidupan masyarakat.

“Semburat Bali tidak berusaha mendefinisikan Bali sebagai sesuatu yang bersifat final atau kaku bagi para pengunjung,” pungkas Samuel David. (ang/mbn)

BERITA MENARIK LAINNYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKINI