JEMBRANA, MediaBaliNews – Sejak longsor, akses jalan yang menghubungkan dua banjar di Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Senin (9/1/2023) dikeluhkan warga. Pasalnya, pasca longsor bulan Oktober lalu, belum ada penanganan hingga sekarang.
“Kurang lebih sudah hampir 4 bulanan. Sudah melapor, dari pihak desa langsung dikasih plang. Dan juga sudah dicek, tapi belum juga ada penanganannya,” kata Gede Ariasa (31) ditemui MediaBaliNews di lokasi, Senin (9/1/2023).
Ariasa menuturkan, akses jalan yang menghubungkan Banjar Tegal Berkis dengan Banjar Peh ini, longsor sejak Oktober tahun lalu, barengan dengan peristiwa banjir di jembatan Biluk Poh – Penyaringan.
Tetapi, kata dia, longsor akses jalan ini bertahap, awalnya 1 meter di sebelah kiri jalan. Kemudian diguyur hujan, bertambah longsor hingga terus melebar dan hanya menyisakan kurang dari 2 meter akses jalan disisi timur. Sehingga sempat ada kejadian, dimana terdapat kendaraan kecil nyungsep selokan di sebelah timur jalan. Namun, beruntung tidak sampai jatuh ke lubang longsor.
“Sebenarnya hanya cukup sepeda motor. Tapi ada beberapa sopir yang memberanikan diri melewatinya,” tuturnya.
Ia berharap, pihak terkait bisa segera memproses perbaikan jalan tersebut. Sehingga masyarakat di perjalanan tidak terganggu dan membahayakan pengendara. “Apalagi kan banyak juga pengendara malam, kasihan nanti jatuh kan bahaya, takutnya kan ada korban lagi,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Pemukiman (PUPR) Kabupaten Jembrana I Wayan Sudiarta saat ditemui di ruang Pressroom Kabupaten Jembrana mengatakan, untuk penanganan jalan di Kabupaten Jembrana tahun 2023 ini, pihaknya menganggarkan sekitar 15 miliyar lebih untuk infrastruktur jalan dan jembatan.
“Karena memang kemampuan daerah itu terbatas, kita pada tahun ini menganggarkan 15,1 miliar, untuk rehab jalan dan penggantian jembatan,” jelasnya.
Namun, kata dia, untuk perbaikan akses jalan yang longsor di Banjar Peh, Desa Kaliakah akan direhab menggunakan dana operasional pemeliharaan dari APBD tahun ini, yakni sebesar 200 juta. Menurutnya, karena ini bukan rehab total, artinya ada beberapa titik yang rusak akibat longsor akan dilakukan bertahap.
“Nanti yang paling parah itu di sebelah selatan TPA itu yang akan kita lakukan tahap pertama. Sisanya baru lanjut ke ruas jalan yang itu (sebelah utara), sehingga nanti tidak mengganggu lalu lintas pengangkutan sampah ke TPA,” jelasnya.
Sudiarta menambahkan, akses jalan Banjar Peh, Kaliakah ini, terakhir diperbaiki sejak 7 tahun lalu, menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2016. Namun, karena cuaca akhir-akhir ini kurang baik, banjir dan longsor diakibatkan oleh jaringan drainase jalan dibawah sehingga menyebabkan tergerus dasar jalannya hingga ambruk.
“Terakhir kita lakukan itu melalui dana DAK 2016. Itu dari segi konstruksi, memang sudah benar, tetapi karena ada longsor, itu yang kita lakukan perbaikan setempat-setempat sehingga di mana ada kerusakan itu yang kita perbaiki,” pungkasnya. (cak/mbn)






















