Saturday, April 18, 2026
spot_img
Saturday, April 18, 2026

Sebelum Dikabarkan Meninggal Tersambar Petir, Korban Sempat Menunjukan Prilaku Tak Biasa

JEMBRANA, MediaBaliNews – Sebelum dikabarkan menjadi salah satu dari belasan korban tersambar petir, Ni Wayan Suriati (58) asal Lingkungan Biluk Poh, Kelurahan Tegal Cangkring, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, sempat menunjukan perilaku tak biasa.

Keluarga maupun kerabat Wayan Suriati, sebelumnya tidak mendapat adanya tanda-tanda Wayan Suriati akan menjadi korban meninggal dalam peristiwa belasan petani tersambar petir saat berteduh usai memanen buah semangka disebuah sawah di Desa Budeng, Kecanatan Jembrana, Jembrana, Sabtu kemarin (27/1).

Menurut keterangan Ketut Sarya Widana (58) yang merupakan ipar korban mengatakan, sebelum kejadian korban justru sempat berperilaku tidak seperti biasanya. Salah satunya sempat meminta foto dengan pose melambaikan tangan.

“Sempat minta foto dengan tangan melambai. Biasanya, mungkin sebelumnya beliau tidak pernah sampai seperti itu,” terangnya saat ditemui dirumah duka, Minggu (28/1).

Ketut Sarya mengaku sangat syok atas kabar yang menimpa iparnya. Mengingat, kepergian seorang ibu anak dua tersebut sangat dirasakan keluarga. Sebab, tidak lama sebelum peristiwa tersebut, suami korban telah meninggal beberapa bulan yang lalu.

“Kami di keluarga biasa-biasa saja, artinya tidak ada pertanda apapun sebelum kejadian tersebut,” jelasnya.

Kemudian, Ketut Sarya menilai korban sangat multitalenta. Korban yang tidak pernah memandang pekerjaan apapun dan memiliki banyak skill semasa hidupnya. Mulai dari petani semangka, kerap membuat upakara Banten, hingga ahli memasak, serta tak jarang korban menjual beberapa makanan di rumahnya.

“Apa saja dikerjakan, mulai dari jadi petani, membuat upakara Banten hingga memasak. Kadang beliau dipanggil sebagai juru memasak saat hajatan-hajatan di tetangga. Kadang juga jualan lontong serapah dan lawar dirumah,” bebernya.

Sementara untuk prosesi pengabenan korban, kata Ketut Sarya, untuk hari baik proses pengabenan tersebut sudah sesuai petunjuk dari Griya Agung Pasek Pergung. Prosesinya bakal dilangsungkan hingga tingkat pengabenan saja pada 30 Januari 2024 mendatang.

Baca Juga :  Tes Urine Mendadak, Seluruh Personel Polres Jembrana Negatif Narkoba

“Kita dari pihak keluarga sudah mohon petunjuk ke Griya Agung Pasek Pergung Jembrana dan memperoleh duwasa dua hari lagi atau selasa, ” ujarnya.

Sedangkan, untuk prosesi ritual nunas baos atau mesuugan, serta ngulapin di lokasi kejadian akan dilakukan keluarga korban pada Senin 29 Januari 2024 besok.

“Untuk nunas baos dan ngulapin kita langsungkan besok. Hari ini masih persiapan. Kami mohon doa agar proses pengabenannya lancar,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Dilanda hujan lebat, belasan petani yang sedang memanen semangka disawah di Desa Budeng, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana, tersambar petir. Satu orang petani dinyatkan meninggal dunia, satu orang kritis dan dua lainnya mengalami luka berat.

Saat dikonfirmasi, Kasat Reskrim Polres Jembrana, AKP Agus Riwayanto membenarkan adanya peristiwa tersebut, yang terjadi hari ini Sabtu (27/1/2024). Dalam kejadian tersebut, sedikitnya ada sebanyak 12 orang yang menjadi korban tersambar petir.

Adapun identitas 12 korban yakni Ni Wayan Suriati (58), I Ketut Wiasa (60), Ni Nyoman Ratni (60), Ni Nyoman Toni (65), Ketut Wati (46) Ni Luh Suratini (50) yang berasal dari Kelurahan Tegal Cangkring, Kecamatan Mendoyo.

Kemudian, Ni Komang Ayu Sri Suparmi (39), Wayan Murdani (28) asal Desa Penyaringan. I Ketut Nalya (57) dan Ketut Sulasih (60) asal Desa Delodberawah. Made Sariani (51) asal Desa Mendoyo Dauh Tukad, dan Ni Kadek Suardani (49) asal Desa Pohsanten, Kecamatan Mendoyo. (gsn/mbn)

BERITA MENARIK LAINNYA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKINI