JEMBRANA, MediaBaliNews – Seorang remaja berinisial DAS (19) ditemukan tewas tenggelam di muara pantai Karang Impian Banjar Sumbersari, Desa Melaya, Kecamatan Melaya, Jembrana, Kamis (4/5).
Kapolsek Melaya, AKP Putu Raka Wiratma saat dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut, dimana peristiwa tersebut bermula saat korban di jemput oleh temannya AF (19) pada hari Rabu (3/5) pukul 19. 30 Wita. Selanjutnya korban pergi meninggalkan rumah berboncengan dengan temannya, korban meminta tolong kepada temannya untuk mengatar dirinya ketemuan dengan pacarnya PDL (18) di Pantai Karang Impian.
“Setelah sampai, temannya korban ini sempat menunggu kedatangan dari pacar korban, namun karena terlalu lama maka si korban menyuruh temannya untuk meninggalkan dirinya sendirian di pantai,” ucapnya.
Sekira pukul 20.00 Wita, kata AKP Raka, pacar korban mendapati pesan whatsapp yang tertulis “Ayang rajin belajarnya ya semangat sekolah” dan setelah dihubungi ternyata Handphone korban sudah tidak bisa dihubungi. Mendapati hal tersebut, pacar korban dan teman korban mendatangi pantai Karang Impian.
“Sampai dilokasi korban tidak ada, hanya ditemukan sepasang sandal dan Handphone milik korban di pinggir muara dekat pantai Karang Impian, ” jelasnya.
Sempat dilakukan pencarian, namun karena tidak ditemukan akhirnya teman korban dan pacar korban datang ke Polsek Melaya pada hari Kamis (4/5) pukul 03.00 Wita untuk melaporkan kejadian tersebut dan akhirnya pada pukul 10.00 Wita korban ditemukan dalam keadaan meninggal yang berjarak sekitar 4 meter dari pinggir muara.
“Setelah Unit Opsnal Reskrim mendatangi TKP, ditemukan jejak kaki di pinggir muara dan dicurigai korban tenggelam di muara. Kemudian warga yang biasa menyelam dimintai bantuan untuk melakukan pencarian di muara tersebut dan akhirnya sekira pukul 10.00 wita korban ditemukan dalam keadaan meninggal, ” tuturnya.
Selanjutnya korban dibawa ke Puskesmas I Melaya, dari hasil pemeriksaan ditemukan lebam pada bagian wajah sampai ke perut korban.
” Dari hasil pemeriksaan luar tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan tehadap korban. Dengan adanya kejadian tersebut, pihak keluarga mengiklashkan kejadian tersebut sebagai musibah dan menolak untuk dilakukan otopsi, ” pungkasnya. (gsn/mbn)























