JEMBRANA, MediaBaliNews – Proses pembangunan rumah produksi kakao atau factory sharing di Banjar Peh, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, dimulai. Petani kakao harapkan dapat menyerap hasil panen petani menjadi produk jadi.
Dari pantauan, tampak beberapa pekerja mulai melakukan penataan dan pengukuran lahan yang akan dibangun pondasi dari rumah kakao. Selain itu, terlihat juga gundukan pasir dilokasi dan sebuah bangunan semi permanen yang akan digunakan sebagai tempat penyimpanan peralatan kerja.
Proyek tersebut digarap oleh PT. Cahya Pramana Artha dan dinaungi oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Koperindag) Kabupaten Jembrana. Proyek tersebut juga di awasi oleh konsultan pengawas dari PT. Kencana Adhi Karma.
Dimana, rumah kakao atau factory sharing ini nantinya akan menjadi tempat pengolahan dari bahan mentah menjadi pruduk jadi. “Fungsinya sama seperti pabrik pada umumnya. Rumah kakao ini merupakan tempat pengolahan dari biji coklat menjadi bubuk coklat atau permen coklat, ” ungkap Kepala Dinas Koperindag Kabupaten Jembrana, I Komang Agus Adinata saat dikonfirmasi melalui Whatsapp, Selasa (29/8).
Pembangunan yang menelan anggaran sebesar Rp. 3.839.351.000 Miliar dengan waktu estimasi pengerjaan selama 90 hari kalender. “Bulan November ini sudah harus selesai. Setelah selesai kita akan langsung melakukan uji coba di awal bulan Desember, ” jelasnya.
Disinggung mengenai kendala yang didapati dalam proses pembangunan saat ini, dirinya menerangkan bahwa sampai saat ini tidak ada kendala dalam pembangunan rumah kakao tersebut.
Sementara, Ketua kelompok tani kakao Merta Abadi Desa Ekasari, Kadek Suantara berharap, dengan adanya tempat produksi kakao ini dapat membantu penyerapan produksi dari para petani.
“Kedepannya sangatlah membantu, yang penting pengelolaan dari pabrik tersebut benar-benar dilakukan secara profesional dan melibatkan stekholder atau petan. Dalam artian, kami para petani kakao di jembrana betul-betul terserap dari adanya pabrik itu, ” harapnya.
Lebih lanjut, pihaknya juga berharap, dengan adanya tempat produksi kakao ini dapat meningkatkan kualitas dari bahan baku yang dihasilkan para petani.
“Dengan adanya pabrik ini, kita bisa menjual bukan lagi bahan baku melainkan barang atau bahan yang sudah jadi dan hal tersebut menjadi nilai tambah dari pruduk yang kita hasilkan, ” pungkasnya. (gsn/mbn)























